Surah yang disebut menjadi bagian dari tantangan tersebut adalah Ad-Duha.
Pengunjung yang mengikuti tantangan itu disebut mendapatkan imbalan berupa satu botol minuman keras dari produk yang dipromosikan.
Video tersebut kemudian memicu reaksi publik dan menjadi awal munculnya kontroversi mengenai penggunaan unsur agama dalam kegiatan promosi.
The Sounds Project Angkat Bicara
Pihak The Sounds Project kemudian memberikan tanggapan setelah aktivitas di booth Newport menjadi perbincangan luas di media sosial.
Melalui akun Instagram resminya, penyelenggara menyampaikan sikap terhadap kejadian yang berlangsung dalam festival tersebut.
Penyelenggara menegaskan bahwa mereka tidak membenarkan penggunaan agama sebagai bagian dari kegiatan promosi maupun tantangan.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram The Sounds Project.
"Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," sambungnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bentuk klarifikasi penyelenggara di tengah sorotan publik terhadap kegiatan di area festival.
Newport Sampaikan Permintaan Maaf
Manajemen Newport juga memberikan tanggapan setelah video aktivitas di booth produknya menimbulkan kegaduhan.
Direktur Newport Handoko Sasongko menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat melalui keterangan resmi pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada umat Muslim, tokoh agama, serta masyarakat Indonesia yang merasa terganggu dengan kejadian tersebut.
"Sehubungan dengan beredarnya video di booth Newport pada gelaran festival musik The Sounds Project, Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia," ujar Handoko.
"(Hal itu) atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi," sambungnya.