KLIK SAJA - Kudok adalah salah satu senjata tradisional khas Sumatera Selatan, terutama dikenal di daerah Besemah, Kabupaten Lahat, dan wilayah Manna di Bengkulu Selatan.
Senjata ini merupakan jenis parang tajam yang dikenal luas oleh masyarakat lokal dengan sebutan kudok betelugh.
Kudok bukan sekadar alat, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Besemah dan sekitarnya.
Kudok betelugh telah lama digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk aktivitas berkebun atau bekerja di ladang.
Ciri khas dari kudok terletak pada ujung pisaunya yang sangat runcing dan gagang bulat yang disebut pulu.
Selain itu, kudok selalu dilengkapi berangke atau sarung kayu sebagai pelindung.
Menariknya, kudok memiliki banyak variasi bentuk. Tercatat ada sekitar 10 jenis kudok yang berbeda, masing-masing memiliki fungsi yang spesifik.
Di antara jenis-jenis tersebut, kudok betelugh, luncu, gerahan, dan rambi ayam adalah yang paling populer dan paling sering dicari.
Kudok umumnya dibuat dari bahan berkualitas tinggi seperti besi atau baja. Bahkan, beberapa pengrajin memilih menggunakan baja bekas per mobil buatan Jerman atau Italia karena daya tahan dan kekuatannya yang tinggi.
Gagang kudok umumnya dibuat dari kayu jati, sedangkan sarungnya dari kayu linden.
Sementara untuk menambah estetika dan kenyamanan, gagang dan sarung dibalut dengan anyaman rotan yang diperkuat menggunakan malau—jenis kayu karet lokal.
Sisi kiri sarung biasanya dilengkapi kait dari kayu atau tanduk, sehingga bisa dikaitkan ke tubuh saat dibawa. Kudok hadir dalam dua ukuran, yaitu 25–30 cm dan 30–35 cm.
Kudok berukuran besar digunakan untuk pekerjaan berat seperti membelah kayu atau bambu, sementara yang kecil digunakan untuk keperluan ringan, bahkan sebagai alat perlindungan diri.
Berbeda halnya dengan senjata tradisional lain seperti keris yang sarat makna filosofis, kudok lebih difungsikan sebagai alat produksi dan perlindungan.