KLIK SAJA - Di tengah kekayaan budaya Indonesia yang begitu beragam, suku Dayak Ngaju dari Kalimantan Tengah memiliki sebuah warisan busana tradisional yang tak hanya unik dari sisi bentuk, tetapi juga sarat makna spiritual tersendiri.
Baju Sangkarut — dikenal juga dengan sebutan Baju Basulau — adalah rompi tradisional yang dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai pelindung dari gangguan makhluk halus dan niat jahat manusia.
Secara etimologis, kata “Sangkarut” berasal dari “Sangka” yang berarti pembatas atau penyangga.
Filosofi ini tercermin dalam fungsinya: baju ini dipercaya bisa membatasi atau menolak gangguan spiritual dan melindungi pemakainya dari energi negatif serta serangan fisik, baik senjata tajam maupun senjata api.
Secara fisik, Sangkarut adalah rompi yang dilapisi Sulau (kerang), dan sering kali dihiasi berbagai ornamen seperti kulit trenggiling, kancing, uang logam, manik-manik, hingga azimat.
Sekilas agak mirip pakaian perang kesatria Samurai yang dipilin dengan rajin, namun bedanya Sangkarut menggunakan bahan-bahan alam.
Hal inilah yang menjadi keunikan tersendiri dari rompi Sangkarut.
Ornamen-ornamen ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tapi juga dipercaya menambah kekuatan supranatural bagi pemakainya.
Material dasar Sangkarut pun istimewa. Baju ini dirajut dari serat alami, seperti serat daun nanas, daun lemba, tengang, dan kulit nyamu — sejenis tanaman hutan tropis yang tumbuh subur di Kalimantan.
Kulit nyamu, yang berserat dan keras, dijadikan bahan utama untuk merangkai baju ini menjadi rompi pelindung yang kuat namun tetap fleksibel.
Secara historis, Sangkarut sering digunakan dalam perang, seperti pada pertempuran di Kuta Bataguh, ketika para kesatria Dayak Ngaju memakainya untuk menghadapi serangan musuh dari Negeri Sawang.
Kepercayaan lokal menyebut bahwa selama mengenakan Sangkarut yang lengkap dengan azimat, seseorang akan kebal dari senjata apa pun.
Bisa dikatakan, bagi suku Dayak, penggunaan Sangkarut bisa memberikan kepercayaan diri bagi yang memakainya.
Namun, fungsi Sangkarut tak sebatas dalam medan tempur. Busana ini juga memiliki nilai seremonial, kerap dikenakan dalam upacara adat, seperti pernikahan atau ritual besar lainnya.