Mengenal Tradisi Begalan Banyumas, Simbol 'Susah Senang' Jalani Pernikahan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 10 April 2025 | 23:26 WIB
pementasan Begalan pada suatu acara resepsi pernikahandi Banyumas (banyumas)
pementasan Begalan pada suatu acara resepsi pernikahandi Banyumas (banyumas)

KLIK SAJA - Indonesia memiliki beragam tradisi pernikahan yang sarat makna dan filosofi, salah satunya adalah Begalan, tradisi unik dari Banyumas, Jawa Tengah.

Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan hiburan dalam resepsi pernikahan, tetapi menyimpan nilai-nilai luhur tentang kehidupan rumah tangga yang dijalani penuh perjuangan, suka dan duka.

Begalan umumnya hanya dilaksanakan dalam pernikahan anak pertama, terutama mempelai laki-laki.

Tradisi Begalan biasanya dilangsungkan menjelang rombongan pengantin memasuki tempat resepsi. Dua orang pemain — Gunareka, pembawa peralatan rumah tangga, dan Rekaguna, si pembegal — menjadi tokoh utama dalam pertunjukan ini.

Dengan dialog yang kental akan sindiran dan humor khas Banyumasan, Gunareka dan Rekaguna beradu argumen tentang barang-barang bawaan yang dibawa dalam pikulan, seperti centhong, kendil, kukusan, dan siwur.

Meski terlihat sederhana, setiap alat itu menyimpan simbol dan pesan bagi kehidupan rumah tangga.

Misalnya, centhong (sendok nasi) melambangkan pengelolaan pangan dan kesejahteraan keluarga, kendil (periuk) menjadi simbol kesabaran dan kehangatan dalam rumah tangga, sementara ilir (kipas) mengingatkan agar pasangan selalu membawa kesejukan dalam relasi mereka.

Pada akhirnya, setelah melalui perdebatan, si pembegal mengizinkan rombongan Gunareka melanjutkan perjalanan — menandai restu simbolis untuk pengantin menjalani bahtera rumah tangga.

Sepintas pertunjukan ini mirip seperti tradisi 'Palang Pintu' pada etnis Betawi.

Asal Usul

Asal-usul Begalan sendiri dipercaya berasal dari masa pemerintahan Bupati Banyumas XIV, Raden Adipati Tjokronegoro pada tahun 1850.

Saat itu, terjadi peristiwa penghadangan rombongan pengantin oleh sosok begal raksasa dalam perjalanan dari Wirasaba ke Kadipaten Banyumas.

Sejak saat itu, upacara Begalan dilakukan sebagai bentuk tolak bala serta pengingat bahwa perjalanan rumah tangga penuh ujian.

Secara etimologis, “Begalan” berasal dari kata Be (besan), Ga (gawan/barang bawaan), dan Lan (lantaran/sarana).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X