Apa Itu Assuro Maca, Tradisi Khidmat Suku Bugis dan Makassar Sambut Bulan Suci Ramadan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 23 Februari 2025 | 19:44 WIB
Prosesi doa Assuro Maca di depan hidangan khas Bugis (Putraindo News)
Prosesi doa Assuro Maca di depan hidangan khas Bugis (Putraindo News)

KLIK SAJA - Masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan memiliki tradisi unik yang disebut Assuro Maca, sebuah kebiasaan turun temurun dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Tradisi ini bukan hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan.

Assuro Maca menjadi tanda betapa kentalnya kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar, terutama dalam menyambut bulan Ramadan.

Assuro Maca secara harfiah memiliki arti sebagai "membaca doa" atau "membaca permohonan".

Baca Juga: Mengenal Tradisi Gembrong Liwet Sambut Ramadan di Dusun Cikubang Sumedang, Sarat Nilai Gotong Royong

Tradisi ini diselenggarakan sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadan, di mana masyarakat memanjatkan doa-doa untuk keluarga yang telah meninggal dunia, sekaligus memohon keberkahan dan keselamatan bagi keluarga yang masih hidup.

Bulan Ramadan dianggap bagi warga Bugis sebagai waktu yang tepat untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, dan Assuro Maca menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan hati dan pikiran sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi Assuro Maca dimulai dengan persiapan makanan dan perlengkapan ritual oleh beberapa tetua.

Beberapa jenis makanan khas disiapkan, seperti songkolo (nasi ketan), jaja (kue tradisional), dan lauk-pauk lainnya khas Bugis.

Uniknya, makanan-makanan ini disusun rapi di atas nampan atau wadah khusus.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Megengan di Ngawi, Bentuk Syukur dan Berbagi Sambut Bulan Ramadan

Selain makanan, dupa juga dibakar dan diletakkan di samping makanan sebagai bentuk simbol penghormatan dan doa yang dipanjatkan kepada leluhur.

Hal yang menarik, susunan pisang diletakkan di tengah-tengah susunan makanan tersebut, dan beberapa batang lilin berwarna merah dipasang di sekitarnya.

Lilin merah ini sebagai simbol cahaya kehidupan dan harapan agar keluarga yang telah meninggal dunia mendapatkan kedamaian di alam kubur.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Tags

Rekomendasi

Terkini

X