KLIK SAJA - Bulan suci Ramadan di Kosovo selalu menghadirkan suasana yang unik, negara termuda di Eropa ini, yang warganya mayoritas muslim.
Ibukota Pristina, masjid-masjid penuh sesak setiap malam saat waktu salat tarawih.
Menurut para aktivis keagamaan, hal ini jelas menunjukkan bahwa di kota tersebut tidak ada cukup ruang salat untuk menampung semua umat beriman yang semangat beribadah selama bulan Ramadan.
Baca Juga: Mengintip Suasana Ramadan di Albania Yang Penuh Toleransi Setelah Bebas Dari Rezim Komunis
Di Prizren, banyak bar di kota bersejarah tersebut menghapus minuman beralkohol dari menu mereka, sebagai tanda penghormatan bagi banyak orang yang berpuasa.
Sementara di kota Peja di bagian barat, orang-orang mengantre di toko roti untuk membeli roti segar sebelum berbuka puasa, untuk bersantap bersama keluarga mereka setelah seharian berpuasa.
Malam hari sangat sepi di seluruh Kosovo selama bulan Ramadan, berbeda dengan bulan-bulan lainnya dalam setahun.
Warga Kosovo menganggap bahwa berbuka puasa lebih merupakan tradisi sosial untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, bukan sekedar sebagai tanda bahwa semua warga Kosovo berpuasa dan merupakan Muslim yang “baik”.
Imam Besar disana mengatakan bahwa Islam di Kosovo sebagian besar dipraktikkan di dalam rumah.
Namun, ini tidak berarti tidak ada tekanan sosial untuk menunjukkan religiusitas.
Baca Juga: Syahdunya Suasana Ramadan di Sarajevo, Ketika Al Quran Jadi Kekuatan Muslim Bosnia
Menurut imam besar, orang Kosovo mungkin mengekspresikan keyakinan agama mereka secara lebih terbuka saat ini, terutama jika dibandingkan dengan penindasan di masa lalu di bawah negara Yugoslavia.
Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam Kosovo untuk transformasi menunjukkan identitas ke-Islamannya yang selama ini diberangus oleh pemerintahan Yugoslavia dan Serbia.
Penindasan pada saat itu termasuk pelarangan atau pencegahan pertemuan umum seperti pertemuan keagamaan.