Akhirnya Swofford dan Troy mendapat misi menembak perwira tinggi Irak. Namun sebelum mereka sempat menarik pelatuk, serangan udara menghancurkan target mereka.
Perang berakhir tanpa satu pun tembakan dari senapan Swofford. Semua pelatihan dan penderitaan yang ia lalui terasa sia-sia.
Setelah pulang ke AS, Swofford mendapati pacarnya berselingkuh. Rekan-rekannya menjalani hidup masing-masing: ada yang menjadi pekerja kantoran, ada yang jatuh ke pelukan pelacur, ada pula yang tetap berkarier di militer.
Baca Juga: Review Film The Chronicles of Riddick (2004), Ketika Vin Diesel Jadi Buronan Antar Galaksi
Hingga suatu hari, Swofford mendengar kabar duka—Troy telah meninggal dunia.
Di pemakamannya, para mantan marinir kembali berkumpul, membawa serta kenangan pahit tentang perang yang tidak memberi mereka kemenangan, hanya kehampaan.
Review
Disutradarai oleh Sam Mendes (American Beauty, 1917), Jarhead bukanlah film perang penuh ledakan dan aksi heroik.
Sebaliknya, film ini menghadirkan potret sunyi dan psikologis tentang absurditas perang modern, di mana para prajurit lebih banyak berjuang melawan kebosanan, ketakutan, dan kesepian daripada menghadapi musuh di medan laga.
Jake Gyllenhaal tampil luar biasa sebagai Swofford—rapuh, sarkastik, namun tetap manusiawi.
Sementara aktor kawakan, Jamie Foxx memberi warna kuat sebagai Sersan Sykes, simbol disiplin dan kerasnya militer.
Secara visual, Mendes menyuguhkan gambar padang pasir yang megah sekaligus menyesakkan—simbol kehampaan batin para tentara. Musik dan sinematografinya mendukung suasana yang melankolis namun tajam.
Pada akhirnya, Jarhead bukan tentang menembak atau menang perang, melainkan tentang bagaimana perang dapat menghancurkan jiwa bahkan sebelum peluru pertama ditembakkan.
Sebuah film perang yang introspektif, getir, dan penuh renungan—lebih dekat ke puisi tentang kesia-siaan ketimbang kisah kemenangan.***