entertainment

Analisa Kejatuhan Genre Film Superhero Hollywood di Tengah Kekacauan Geopolitik Internasional

Selasa, 15 Juli 2025 | 20:53 WIB
ilustrasi Superman (shedevrum)

Sebuah jajak pendapat pada September 2024 menunjukkan bahwa 57,4% warga AS setuju dengan pernyataan “pemimpin negara saya seharusnya memiliki otoritas penuh tanpa batas.”

Identitas nasional yang kohesif semakin hancur akibat krisis kesehatan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketidakpercayaan yang meluas terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola krisis — ditambah dengan sikap individualisme ekstrem khas Amerika yang menolak kewajiban sosial seperti jaga jarak atau lockdown — menciptakan masyarakat yang terpecah dan penuh kemarahan.

Narasi tentang “kebaikan Amerika” yang sering ditampilkan dalam film-film superhero pun tak lagi relevan di tengah lanskap politik yang terbelah ini.

Genre film superhero, yang selama ini menggambarkan AS sebagai kekuatan positif di dunia, kini gagal menjangkau kedua sisi spektrum politik.

Sayangnya, para elite Hollywood tampaknya belum memahami hal ini. James Gunn, sutradara film Superman terbaru, menyebut filmnya sebagai metafora nilai-nilai Amerika.

Superman adalah kisah tentang Amerika,” kata Gunn kepada The Times of London. “Seorang imigran yang datang dari tempat lain dan membangun negara ini. Tapi bagi saya, ini terutama tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan yang kini telah hilang.”

Kecenderungan masyarakat Amerika saat ini yang cenderung mempolitisasi film secara berlebihan dan mengkategorikannya sebagai “woke” atau “anti-woke” juga menghambat kesuksesan film-film besar semacam ini — yang dulunya mampu menarik penonton dari berbagai latar belakang politik.

Film superhero adalah genre yang bersifat optimistik sekaligus nasionalistik — pesan utamanya adalah bahwa Amerika, dan tatanan liberal secara keseluruhan, layak untuk dibela.

Namun kini, warga Amerika tampaknya kehilangan optimisme terhadap masa depan, bahkan terhadap nilai-nilai ideologis itu sendiri. Semakin sedikit yang percaya pada pilar-pilar liberalisme seperti demokrasi dan multikulturalisme — hal-hal yang selama ini diperjuangkan oleh para superhero.

Jika kita bahkan tidak bisa sepakat tentang apa itu nilai-nilai Amerika, maka wajar jika kita juga tidak bisa sepakat tentang pahlawan seperti apa yang pantas mewakili semangat kebangsaan.

Dalam kondisi politik internasional yang memperhatinkan ini  mungkin tidak terlalu mengejutkan jika masyarakat Amerika dan dunia tak lagi berbondong-bondong menonton film superhero seperti dulu.***

Halaman:

Tags

Terkini