entertainment

Review Film Being Maria (2024), Festival Film Cannes, Kontroversi, dan Luka Maria Schneider di Balik Layar!

Jumat, 27 Desember 2024 | 13:33 WIB
Annamaria Vartolomei memerankan Maria Schneider dalam film Being Maria (2024) (eninarothe.com)

Lebih dari Sekadar Adegan Kontroversial Maria-Marlon

Being Maria bukan sekadar film tentang adegan seks kontroversial. Film ini lebih dalam dari itu sebab mengangkat isu eksploitasi, power imbalance di industri film, dan bagaimana perempuan sering kali menjadi korban dalam lingkungan yang didominasi laki-laki.

Anamaria Vartolomei memberikan performa yang luar biasa dalam memerankan Maria Schneider. Ia berhasil menyampaikan emosi yang kompleks dan penderitaan yang dialami Maria dengan sangat meyakinkan.

Film ini juga memberikan konteks yang penting tentang bagaimana adegan di Last Tango in Paris difilmkan dan bagaimana Maria merasa diperlakukan di lokasi syuting.

Inilah bagian yang paling penting, Greg. Being Maria tidak akan punya arti jika kita tidak membahas dampak nyata Last Tango in Paris pada kehidupan Maria Schneider. Adegan seks yang kontroversial itu bukan hanya sekadar adegan film, tetapi meninggalkan luka yang dalam dan membekas seumur hidupnya.

Perlu diingat, pada saat syuting Last Tango in Paris, Maria Schneider masih sangat muda, baru berusia 19 tahun. Ia beradu akting dengan Marlon Brando, aktor yang jauh lebih senior dan berpengalaman.

Yang lebih parah, adegan seks tersebut, khususnya adegan dengan butter, tidak direncanakan sebelumnya dan dilakukan tanpa persetujuan penuh dari Maria. Sutradara Bernardo Bertolucci mengakui bahwa ia dan Brando sengaja tidak memberi tahu Maria sebelumnya agar reaksinya di depan kamera lebih "alami".

Tindakan ini jelas merupakan bentuk eksploitasi dan pelecehan seksual. Maria merasa dimanipulasi dan dilecehkan, dan pengalaman ini sangat traumatis baginya. Ia merasa harga dirinya direnggut dan dieksploitasi demi kepentingan film.

Setelah Last Tango in Paris, Maria mengalami kesulitan mental dan emosional yang berkepanjangan. Ia berjuang melawan depresi, kecemasan, dan bahkan mencoba bunuh diri. Kariernya pun terhambat karena ia dicap sebagai aktris yang "berani" tampil telanjang di film.

Kisah Maria Schneider adalah contoh nyata bagaimana industri film dapat merusak kehidupan seseorang. Ini adalah pengingat yang penting bahwa di balik gemerlapnya layar perak, terdapat sisi gelap yang penuh dengan eksploitasi dan pelecehan.

Baca Juga: Review Film The War with Grandpa (2020), Robert De Niro Ikutan Perang Kamar, Kocak Abis!

#MeToo: Maria Schneider dan Jeritan yang Tak Pernah Padam

Kisah Maria Schneider relevan dengan gerakan #MeToo. Film ini mengingatkan kita bahwa eksploitasi dan pelecehan di industri hiburan bukanlah hal baru. Being Maria memberikan suara bagi para korban dan mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana kita memperlakukan perempuan di industri film dan di masyarakat secara umum.

Meskipun film ini mengangkat tema yang berat dan menyakitkan, Being Maria menyajikannya dengan narasi yang kuat dan performa akting yang memukau.

Film ini penting untuk ditonton sebagai pengingat dan pemicu diskusi tentang isu-isu penting yang masih relevan hingga saat ini.

Halaman:

Tags

Terkini