KLIK SAJA - Movie Lovers, siap-siap untuk film yang bakal bikin kamu merinding sekaligus mikir keras! Being Maria (2024), yang sempat mejeng di Festival Film Cannes, bukan film sembarangan.
Film berdurasi 1 jam 40 menit ini berani mengupas luka lama yang tersembunyi di balik gemerlapnya dunia perfilman, khususnya terkait adegan kontroversial di film Last Tango in Paris yang dibintangi Marlon Brando dan Maria Schneider.
Sutradara Jessica Palud membawa isu feminisme di kalangan artis dalam film drama-biografi ini, dengan latar belakang memoar My Cousin Maria Schneider karya Vanessa Schneider (sepupu Maria Schneider).
Maria Schneider sendiri sudah meninggal dunia pada 3 Februari 2011 di usia 58 tahun.
Film yang dirilis 19 Juni 2024 ini bukan untuk semua umur, ya! Ada konten dewasa dan pembahasan isu sensitif yang perlu diperhatikan. Jadi, pastikan kamu sudah cukup umur dan siap mental sebelum lanjut membaca review ini.
Baca Juga: Review Film Small Things Like These (2024), Reuni Maut Cillian Murphy dan Sutradara Peaky Blinders!
Kilas Balik Tragedi di balik Last Tango in Paris
Bagi yang belum tahu, Last Tango in Paris (1972) sempat menghebohkan dunia perfilman dengan adegan seksnya yang eksplisit dan kontroversial.
Di balik adegan tersebut, tersimpan kisah yang lebih kelam, yaitu pengalaman traumatis yang dialami Maria Schneider, aktris muda yang beradu akting dengan Marlon Brando (diperankan Matt Dillon).
Being Maria (2024) hadir untuk menceritakan sisi lain dari cerita tersebut, dari sudut pandang Maria Schneider.
Film ini diperankan dengan apik oleh Anamaria Vartolomei, yang sukses menghidupkan sosok Maria Schneider yang rapuh dan rentan. Akrtis cantik ini sebelumnya cukup sukses bermain dalam film The Count of Monte Cristo (2024) sebagai Haydee.
Baca Juga: Review Film The Count of Monte Cristo (2024), Sebuah Film Presisi dari Karya Alexandre Dumas
Film ini tidak hanya menyoroti adegan kontroversial tersebut, tetapi juga dampak psikologis yang dialami Maria setelahnya, serta perjuangannya menghadapi eksploitasi di industri film yang keras.
Pembelajaran bersama bagi siapapun yang mau terkenal di dunia ke-artis-an, bahwa sekali saja mengambil tindakan beresiko, tragedi bisa menghantui seumur hidup.
Artikel Terkait
Review Film The Killer (2024), Remake Film John Woo yang Fresh dan Artistik
Review Film Werewolves (2024), Saat Frank Grillo Terjebak dalam Fenomena Supermoon dan Mutasi Genetik
Review Film Interstellar (2014), Menjelajah Ruang dan Waktu Demi Secercah Harapan
Review Film Pixels (2015), Nostalgia Game 80-an Dibombardir Humor Sandler yang Kadang Bikin Geleng-Geleng Kepala
Review Film The War with Grandpa (2020), Robert De Niro Ikutan Perang Kamar, Kocak Abis!
Review Film Small Things Like These (2024), Reuni Maut Cillian Murphy dan Sutradara Peaky Blinders!