KLIK SAJA - Ketika nostalgia game arcade 80-an bertemu dengan humor khas Adam Sandler, lahirlah Pixels (2015). Film yang disutradarai oleh Chris Columbus, sosok di balik kesuksesan Home Alone dan dua film pertama Harry Potter, ini mencoba menghadirkan perpaduan unik antara fiksi ilmiah, komedi, dan aksi.
Kolaborasi ini terdengar menjanjikan, menggabungkan sentuhan magis Columbus, ikon-ikon game klasik, dan gaya komedi Sandler yang seringkali memecah belah opini.
Proses produksi film berudrasi 1 jam 45 menit ini sendiri cukup menarik, karena diadaptasi dari film pendek berjudul sama karya Patrick Jean yang viral di internet.
Pertanyaannya, apakah perpaduan ini berhasil menghasilkan tontonan yang menghibur, atau justru menjadi tontonan yang membuat kita geleng-geleng kepala?
Baca Juga: Review Film Interstellar (2014), Menjelajah Ruang dan Waktu Demi Secercah Harapan
Ketika Pixels Menyerang Bumi
Pada tahun 1982, NASA meluncurkan kapsul berisi rekaman budaya manusia ke luar angkasa, termasuk cuplikan video game arcade populer seperti Pac-Man, Donkey Kong, dan Centipede.
Tanpa disangka, alien salah mengartikan rekaman tersebut sebagai deklarasi perang. Mereka kemudian menyerang Bumi dengan menggunakan karakter-karakter game tersebut dalam bentuk piksel raksasa.
Di tengah kekacauan ini, Presiden Will Cooper (Kevin James) meminta bantuan teman masa kecilnya, Sam Brenner (Adam Sandler), seorang mantan juara video game arcade yang kini bekerja sebagai teknisi instalasi perangkat elektronik.
Brenner, bersama teman-temannya sesama gamer yaitu Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) yang eksentrik dan Eddie Plant (Peter Dinklage) yang merupakan mantan rivalnya di dunia game, direkrut untuk membentuk tim khusus yang bertugas melawan invasi piksel.
Mereka juga dibantu oleh Letnan Kolonel Violet van Patten (Michelle Monaghan), seorang spesialis senjata.
Pertempuran pun dimulai. Brenner dan timnya harus menggunakan pengetahuan mereka tentang game-game klasik untuk mengalahkan para alien Pixels.
Adegan-adegan aksi yang menampilkan karakter-karakter ikonik seperti Pac-Man yang melahap kota New York dan Donkey Kong yang melemparkan barel raksasa dari gedung pencakar langit disajikan dengan efek visual yang cukup memanjakan mata.
Di sinilah humor khas Sandler mulai muncul, melalui dialog-dialog konyol, adegan slapstick, dan interaksi antar karakter yang seringkali absurd.