Semua karakter membawa luka masing-masing.
Interaksi mereka terasa dekat dengan realitas banyak keluarga.
Penonton diajak memahami, bukan menghakimi.
Di situlah film ini menghangatkan, lewat usaha kecil untuk saling memaafkan.
Sebuah pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang, meski tak selalu mudah.***
Artikel Terkait
Review Film The Dark Knight (2008), Sekuel Terbaik Sang Pangeran Kegelapan dan Karakter Joker Paling Edan dari Mendiang Heath Ledger
Review Film Deep Impact (1998), Ketika Komet Raksasa Menabrak Bumi Sebabkan Bencana Besar
Review Film The Mystical Treasure (2018), Aksi Pecahkan Teka-Teki Kuno Berbalut Kesetiaan dan Pengkhianatan
Review Film The Dark Knight Rises (2012), Penutup Trilogi Sang Pangeran Kegelapan yang Epik dan Emosional
Empat Fakta Menarik Film Natal: How the Grinch Stole Christmas (2000) yang Dihidupkan Aktor Jim Carrey