Will Arnett, yang juga menulis naskah bersama Cooper, berperan sebagai eksekutif keuangan yang letih dan terasing dari istrinya (Laura Dern).
Suatu malam, ia naik ke panggung klub komedi New York hanya untuk menghindari biaya masuk.
Namun, tanpa diduga ia menemukan bahwa stand-up membantunya terbuka mengenai masalah hidup, sekaligus mengingatkan bahwa masa paruh baya tak melulu tentang mengasuh anak dan rutinitas kerja.
Berdasarkan pengalaman John Bishop, komedian asal Liverpool (itulah sebabnya Arnett kadang memakai jersey Liverpool), film drama-komedi yang hangat ini menunjukkan betapa peliknya mempertahankan pernikahan, namun tetap memberi harapan bahwa perjuangan itu layak dilakukan.
- Sorry, Baby
Drama komedi indie yang memesona ini ditulis dan disutradarai oleh Eva Victor, yang juga berperan sebagai tokoh utama, Agnes.
Kita melihat Agnes pada masa kini ketika sahabatnya, Lydia (Naomi Ackie), mengunjunginya di kampus New England tempat ia mengajar.
Namun film ini juga membawa penonton kembali ke beberapa tahun sebelumnya, saat Agnes dan Lydia masih menjadi mahasiswa, dan ketika Agnes mengalami pelecehan seksual oleh salah satu profesornya.
Victor menggambarkan hari-hari sebelum dan sesudah kejadian itu dengan kejujuran lugas dan humor sarkastik yang datar, sehingga cerita yang berpotensi kelam justru berubah menjadi kisah unik, pahit-manis tentang ketahanan diri dan persahabatan perempuan.
Yang paling mengesankan, Sorry, Baby adalah debut Victor sebagai penulis-sutradara—namun ia sudah mampu menampilkan gaya dan suara artistik yang sangat khas.
Film Chloé Zhao yang sangat mengharukan ini mengisahkan kematian putra Shakespeare, dan menerjemahkan novel Maggie O’Farrell ke layar lebar dengan seluruh keindahan bahasa serta kekuatan emosinya yang utuh.
Cerita tentang bagaimana kematian Hamnet yang berusia 11 tahun memengaruhi orang tuanya mudah saja terjerumus ke melodrama, namun Zhao berhasil menghadirkannya dengan kedalaman dan kejujuran yang menyentuh.
Jessie Buckley tampil kuat sekaligus memilukan sebagai Agnes, istri Shakespeare yang intuitif dan berkemauan kuat—sosok yang menjadi pahlawan sejati film ini.
Paul Mescal menghadirkan kemanusiaan yang hangat dan membumi pada karakter Shakespeare.