Aktingnya tidak histeris, tapi penuh detail kecil cara menatap, cara diam, cara menahan napas.
Kemenangan Sheila terasa layak dan menjadi pengingat bahwa akting bagus itu bukan soal volume, tapi sensitivitas.
Ia membuat karakter imajiner terasa nyata seperti tetangga rumah.
3. Ringgo Agus Rahman Meraih Aktor Terbaik untuk Peran Paling “Ayah” Sepanjang Kariernya
Baca Juga: Review Film 'If I Had Legs I’d Kick You' (2025), Membuka Mata Tentang Tekanan Ibu dan Standar Sosial
Ringgo menang melalui perannya di "Panggil Aku Ayah", film yang membuktikan bahwa jadi ayah itu tidak harus sempurna, tapi harus hadir.
Penampilannya tulus, hangat, tapi tetap punya kekeliruan manusiawi. Banyak yang bilang Ringgo tidak berakting ia 'menjadi'.
Di panggung, ia berkata, “Ini film yang membuat saya belajar ulang tentang keluarga.”
Kutipan yang tidak saya ubah sedikit pun itu langsung menyalakan tepuk tangan meriah.
4. Yandy Laurens Menang Sutradara Terbaik: Konsistensinya Tidak Pernah Gagal Mengaduk Perasaan
Nama Yandy Laurens sudah identik dengan cerita intim yang memukul pelan tapi pasti.
Kemenangannya lewat 'Sore: Istri dari Masa Depan' adalah kombinasi presisi teknis, naskah yang rapih, dan chemistry pemain yang tidak dibuat-buat.
Yandy seperti punya kemampuan membaca keheningan, adegan sederhana pun bisa terasa seperti halaman hidup yang pernah kita alami. Tahun ini, ia bukan hanya menang, tapi naik kelas.
5. Christine Hakim Membawa Pulang Piala Pendukung Terbaik, Senioritas yang Justru Semakin Luwes
Artikel Terkait
Review Film Men in Black II (2002), Ketika Will Smith dan Tommy Lee Jones Bersatu Kembali Lindungi Bumi dari Serangan Alien
Review Film Police Story 2 (1988), Ketika Jackie Chan Jadi Polisi Jujur Bongkar Gembong Kriminal Hong Kong
Review Film Mission Impossible III (2006) Ketika Tom Cruise Perankan Sosok Ethan Hunt yang Lebih Humanis
Review Film The Mob (2023), Aksi Seru Kerasnya Dunia Gangster Kota Shanghai Tahun 1928
Review Film 'My Boo 2' (2025): Romansa Supranatural yang Absurd tapi Bikin Hangat