Tod ditemukan tewas gantung diri secara misterius, disusul Terry yang tewas tertabrak bus di depan mata teman-temannya.
Alex kemudian menyadari bahwa Kematian sedang menjemput mereka dalam urutan yang sama seperti di pesawat, sesuai dengan siapa yang seharusnya mati lebih dulu.
Ia berusaha menyelamatkan yang tersisa, tapi tak mudah — guru mereka, Ms. Lewton, menjadi korban berikutnya setelah rumahnya meledak akibat kecelakaan berantai yang aneh.
Ketika berusaha menghentikan “rantai kematian”, Alex hampir terbunuh beberapa kali.
Dalam salah satu insiden, ia berhasil menyelamatkan Clear dari mobil yang terbakar, mengira bahwa dirinya telah menuntaskan kutukan tersebut.
Enam bulan kemudian, Alex, Clear, dan Carter berkumpul di Paris untuk merayakan selamatnya mereka.
Namun, rasa lega itu tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan kecil kembali menandakan bahwa Kematian belum selesai dengan mereka.
Ketika Alex hampir tertimpa papan reklame, Carter menyelamatkannya — tapi papan itu berayun kembali dan justru menewaskan Carter.
Kisah pun berakhir dengan pertanyaan menggantung, dimana kematian selalu mengintai.
Review
Final Destination bukan sekedar film horor biasa, kisahnya bisa dikatakan sangat orisinil dan otentik.
Saking suksesnya film ini sampai dibuatkan lima sekuel series.
Jalan ceritanya sangat sulit ditebak dan menyajikan keseraman yang berbeda.
Walaupun berkonsep klasik tentang sekolompok remaja yang terjebak hal misterius, namun ide ‘ramalan kematian’ pada film ini membuat penonton penasaran pada setiap plot ceritanya.
Pada akhirnya filmini seolah memberi pesan, bahwa kita manusia takkan bisa menghindari dari takdir kematian.***