Kedua kakak-beradik ini kemudian harus kembali bekerja sama untuk mengalahkan teror abadi tersebut, sebuah misi yang membawa mereka menemukan koneksi mengejutkan antara masa lalu Grabber dengan ibu mereka sendiri.
Keputusan ini membuat Black Phone 2 memiliki tone yang lebih gore dan sinematografi yang lebih surreal.
Mason Thames dan Madeleine McGraw kembali menunjukkan penampilan yang matang, terutama Thames yang berhasil menangkap kemarahan dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Finney.
Perkembangan karakter Terrence yang membaik juga menjadi jangkar emosional yang kuat bagi cerita.
Meski demikian, Black Phone 2 tidak lepas dari kritik.
Film ini dituding terlalu memaksakan diri untuk menjelaskan setiap detail, termasuk latar belakang Grabber dan elemen religius yang kuat, yang justru mengurangi misteri dan ketegangan horor.
Beberapa kritik menilai film ini kehilangan fokus, menjadi terlalu overstuffed dengan mitologi dan simbolisme.
Secara visual, Black Phone 2 tampil mencolok dengan adegan-adegan mimpi yang menyeramkan.
Meskipun tidak lagi mencekam seperti horor ruang sempit film pertama, sekuel ini berhasil menjadi pendamping yang worthwhile dengan mengeksplorasi tema trauma dan iman.
Ini adalah sequel yang berani mengambil risiko, meskipun terkadang terasa canggung dalam menyeimbangkan antara drama emosional dan horor supranatural.
Rating: 3/5 Bintang
(Kategori: Horor Supranatural dengan Chemistry Pemeran Kuat).***
Artikel Terkait
Review Film 'The Davinci Code' (2006), Misteri Terpendam Leonardo da Vinci dan Kontroversi Sejarahnya
Bukan Sekadar Hemat, Simak Sinopsis, Rating, dan Keunikan Komedi 'Keluarga Super Irit' yang Mencerminkan Realitas Indonesia!
Antara Kemurnian Narkoba dan Kepolosan Desa: Sinopsis dan Refleksi Dokumenter Netflix Terbaru, 'Forbidden Fishing'.
Fenomena Eyeliner Fedi Nuril, Tampilan Berbeda Sang Aktor di BIFF 2025 Menjadi Perbincangan Hangat dan Trending
Mantan Pesinetron Ammar Zoni Akhirnya Dijebloskan ke Lapas Nusakambangan Akibat Edarkan Narkoba Dalam Sel