Kisah penculikan yang dipicu oleh suara derit kaki palsu ini berhasil menghadirkan pertanyaan etis yang mendalam, apakah keadilan bisa ditegakkan di luar hukum, terutama bagi para korban represi?
Vahid digambarkan bukan sebagai pahlawan, melainkan pria rapuh yang terperangkap dalam bayang-bayang luka masa lalu.
Keraguan tentang identitas Eghbal menjadi inti konflik yang membawa penonton ikut merenungkan hakikat trauma, ingatan, dan pemaafan.
Film ini terasa sangat manusiawi, menampilkan karakter-karakter yang mencoba melanjutkan hidup di tengah sistem yang bobrok.
Panahi menyajikan filmnya dengan realisme yang khas, menggunakan sinematografi yang sederhana namun efektif untuk menonjolkan ekspresi dan dilema para pemainnya.
Elemen drama yang kelam ini bahkan diselingi humor gelap yang menyentil isu korupsi dan birokrasi yang harus dihadapi oleh warga biasa.
Peringkat D17+ sangat sesuai karena film ini mengangkat tema politik, kekejaman psikologis, dan moralitas yang kompleks.
It Was Just An Accident adalah sebuah tontonan penting, sebuah karya yang tidak hanya ditonton, tetapi juga akan menetap di pikiran lama setelah layar bioskop gelap.
Panahi membuktikan sekali lagi bahwa sinema adalah senjata paling tajam untuk menyuarakan kebenaran.
Rating: 4.5/5 Bintang.***
Artikel Terkait
Mengungkap Tradisi Kuno Film 'Gowok: Kamasutra Jawa', Hanung Bramantyo Hadirkan Kisah Dramatis Pendidikan Seksual Jawa
Misteri Kematian Sang Ayah Ungkap Jati Diri Terlarang: Review 'The Big 4', Film Laga Indonesia yang Mencuri Perhatian Dunia di Netflix
Kunci Sukses Sekuel 'Jumanji: The Next Level' dan Chemistry Para Bintang yang Terjebak dalam Tubuh Dwayne Johnson, Kevin Hart, dan Jack Black
Dari Drama Romantis ke Distopia Fiksi Ilmiah: Review 'Arini by Love.inc', Ambisi yang Belum Sepenuhnya Terwujud
Review Drama Series The Long Ballad (2021), Kisah Sejarah Epik Romansa era Dinasti Tang Sajikan Sinematografi Apik, Lengkap Link Nontonnya!