Review Film Ordinary Angels (2024): Ketika "Bapack-Bapack Setrong" juga Membutuhkan Bantuan

photo author
Greg Satria, Klik Saja
- Minggu, 29 Desember 2024 | 09:00 WIB
Poster Film Ordinary Angels (Youtube/Cineplex Pictures)
Poster Film Ordinary Angels (Youtube/Cineplex Pictures)

Bagai orang asing di sana, ia ternyata berkesempatan untuk bertemu Michelle, Ashley, dan juga Ed Schmitt. Meski sempat dianggap stranger, hati Sharon memiliki kebulatan tekad untuk membantu keluarga ini. 

Sharon lalu mengadakan sejumlah penggalangan dana untuk membantu meringankan beban finansial Ed yang harus rutin mengantar Michelle cuci darah. Menjadi dramatis, ternyata dokter telah memvonis umur Michelle tidak lama lagi.

Sharon lalu berinisiatif untuk menemui Ed dan bermuka tebal untuk membantunya, sekalipun mengalami penolakan di awalnya. Ternyata, semua hal baik yang dilakukan Sharon, didasari pada kegagalannya menjaga putra semata wayangnya, Derek (Dempsey Bryk).

Baca Juga: Review Film Alien: Romulus (2024): Teror Xenomorph Kembali Mencekam dalam Sentuhan Fede Álvarez

Review Film

Untuk sebuah film adaptasi kisah nyata, tidak perlu pertanyaan investigatif mengapa Sharon mau untuk membantu keluarga Ed. Ending film dengan gamblang menjelaskan bahwa keduanya tetap menjalin persahabatan, serta Michelle akhirnya bisa bertahan hidup, lulus sekolah dan akhirnya menemukan tambatan hatinya.

Film happy ending story ini berfokus untuk menggugah penonton, seberapapun berat beban dalam membina keluarga, pasti akan ada tangan-tangan malaikat yang mau menolong. Asal, kita mau mengetuk pintu. Bisa berupa doa ataupun meminta tolong.

Jon Gunn tahu benar mengarahkan pesan moral seperti ini, dengan bantuan sosok Alan Ritchson yang bagaikan batu karang besar, harus pecah juga ditetesi oleh masalah yang bertubi-tubi.

Kehidupan pribadi Sharon Stevens menjadi warna tersendiri, supaya penonton tidak terjebak pada alur yang sangat melodramatis. 

Ordinary Angels, bagi saya pribadi sebagai seorang suami dan ayah, akan menjadi film yang bisa saya tonton berkali-kali untuk meneguhkan hati dalam berjuang untuk keluarga. Tidak boleh ada kata malu dan menyerah, Ed Schmitt telah membuktikan bisa menjadi "malaikat biasa" untuk Michelle, dengan bantuan malaikat lainnya, Sharon Stevens.

Baca Juga: Review Film A Different Man (2024): Obsesi, Identitas, dan Transformasi Sebastian Stan yang Mengejutkan

Film ini telah tayang di bioskop Indonesia pada 3 April 2024, lebih terlambat dari penayangan perdana di Amerika Serikat setahun sebelumnya.

Jon Gunn menggandeng Lionsgate untuk menggarap film ini, sehingga kejernihan gambar untuk menjelaskan latar tahun 1990-an tidak perlu dipertanyakan. Ciri khas film Lionsgate, layar boleh temaram, tetapi harus ada lampu kecil berwarna sebagai kontrasnya.

IMDb hingga kini memberikan nilai cukup bagus, yakni 7.4/10 dan sayapun setuju dengan nilai tersebut. Film ini boleh dilihat oleh semua kalangan, meski ada adegan minum alkohol yang sedikit disamarkan.

Menjadi lebih bermakna, jika menonton film ini bareng-bareng dengan keluarga. Tetapi kalau anda tidak siap dilihat anak-anak ketika sedang menangis, ya bolehlah, malam-malam menonton usai si kecil terlelap.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Greg Satria

Sumber: IMDb, Lionsgate Movies

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X