Bagian luarnya kemudian dilapisi pelepah bambu atau clumpring, yang memperkuat struktur sekaligus melindungi dari cuaca.
Karena awalnya digunakan oleh penggembala, bagian kepala bundengan dibuat sedikit mendongak. Desain ini memudahkan pemakainya untuk tetap mengamati unggas peliharaan saat berjalan.
Pada bagian dalam, para penggembala dahulu memasang ijuk sebagai sumber bunyi.
Namun, seiring waktu dan semakin sulitnya mendapatkan ijuk, material tersebut kemudian digantikan dengan senar raket bulu tangkis bekas, yang terbukti lebih mudah diperoleh dan tetap menghasilkan suara yang khas.
Asal-usul Nama Bundengan
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul penamaan bundengan. Dalam versi Yogyakarta, istilah ini berasal dari kata bundeng atau bindeng, yang bermakna “tidak bisa keluar tanpa bantuan alat,” merujuk pada fungsi awalnya sebagai pelindung tubuh.
Versi lain menyebutkan bahwa nama bundengan muncul dari inovasi bunyi kendang, yang identik dengan irama “dang-deng, dang-deng”.
Ada pula yang berpendapat bahwa sebutan tersebut muncul karena suara bundengan yang menghasilkan efek berdengung atau bindeng dalam Bahasa Jawa.
Cara Memainkan Bundengan
Bundengan dimainkan dengan cara dipetik. Meski terlihat sederhana, memainkan alat musik ini membutuhkan teknik khusus dan kepekaan rasa.
Pemain harus mampu mengoordinasikan kedua tangan sekaligus menguasai lagu-lagu lenggeran yang menjadi repertoar utamanya.
Secara tradisional, bundengan digunakan untuk mengiringi Tari Lengger, sebuah tarian khas Jawa yang biasanya dimainkan secara berpasangan, dengan peran perempuan yang sering diperankan oleh laki-laki.
Baca Juga: Mengenal Alat Musik Polopalo dari Gorontalo, Terbuat dari Bambu dan Nyaring Bunyinya
Namun, seiring perkembangan zaman, bundengan juga kerap mengiringi berbagai bentuk pertunjukan lain, seperti campursari, rebana, dangdut sholawatan, pementasan wayang, bahkan lagu-lagu populer masa kini.
Meski tergolong alat musik sederhana, suara bundengan sering disamakan dengan gamelan.