Mendirikan Sekolah Agama Perempuan Pertama di Asia
Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, sekolah agama Islam khusus perempuan pertama di Indonesia, bahkan di kawasan Asia.
Tujuannya sederhana namun revolusioner: membuka akses pendidikan agama dan ilmu pengetahuan bagi perempuan agar mereka dapat menjadi pribadi yang mandiri, berilmu, dan berakhlak mulia.
Dari sekolah ini lahir banyak tokoh penting, termasuk H.R. Rasuna Said, pahlawan nasional yang juga memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Tak hanya di Indonesia, lulusan Diniyyah Puteri juga berkiprah di mancanegara, seperti Tan Sri Aishah Gani, Menteri Kebajikan Masyarakat Malaysia.
Baca Juga: Mengenal Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Pahlawan Nasional Konseptor Wawasan Nusantara
Kiprah Rahmah pun mendapat pengakuan internasional.
Gagasannya menginspirasi Universitas Al-Azhar Mesir untuk membuka Kulliyatul Banat, fakultas khusus perempuan.
Pada 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj mengunjungi Diniyyah Puteri, dan dua tahun kemudian, saat Rahmah melakukan kunjungan balasan ke Mesir, ia dianugerahi gelar kehormatan “Syekhah” — gelar yang belum pernah diberikan kepada perempuan sebelumnya.
Perjuangan Melawan Penjajah
Selain di bidang pendidikan, Rahmah juga turut serta dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Saat pendudukan Jepang di Sumatera Barat, ia memimpin organisasi Haha No Kai di Padang Panjang untuk membantu pasukan Giyugun.
Pada masa Revolusi Nasional Indonesia, Rahmah memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang.
Ia bersama murid-muridnya menyiapkan logistik, makanan, dan obat-obatan bagi para pejuang.
Pada 7 Januari 1949, Rahmah ditangkap dan ditahan oleh Belanda karena keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan.
Namun semangatnya tak pernah padam. Dalam Pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota DPR dari Partai Masyumi, meski kemudian memilih turun ke lapangan untuk mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).