Waliba segera melihat bakat besar Abu Nuwas dalam menulis puisi dan mendorongnya untuk serius menekuni dunia kepenyairan.
Namun, hubungan keduanya juga diwarnai ketertarikan erotis, yang kelak tercermin dalam karya-karya Abu Nuwas sendiri, terutama pada puisinya yang banyak menggambarkan relasi dengan pemuda.
Karya dan Warisan Sastra
Abu Nuwas menulis dalam berbagai genre puisi, namun bakatnya paling menonjol dalam puisi anggur (khamriyyāt) dan puisi perburuan (ṭardiyyāt).
Diwan-nya dibagi ke dalam beberapa jenis karya: puisi pujian (madih), elegi (ritha’), sindiran pedas (hijā’), puisi cinta terhadap pria maupun wanita, puisi tobat, puisi perburuan, serta puisi anggur.
Karya-karya erotisnya, yang sebagian besar bernafaskan homoerotisme, dikenal dari lebih dari 500 puisi dan fragmen.
Selain itu, Abu Nuwas juga aktif dalam tradisi sastra Arab berupa puisi satir. Tradisi ini kerap berupa adu tanding antarpenyair, di mana masing-masing pihak melontarkan ejekan tajam dan sindiran dalam bentuk syair.
Ia dikenal penyair yang pintar membuat analogi terbalik dengan kecerdasan di atas rata-rata, sehingga dirinya kerap muncul dalam cerita rakyat dan digambarkan sosok yang cerdas serta dikagumi Khalifah Harun Al Rasyid.
Dengan perpaduan keberanian tema, gaya bahasa yang segar, serta keberhasilannya keluar dari pakem lama, Abu Nuwas dikenang sebagai salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Arab.
Karya-karyanya terus dipelajari, baik karena nilai sastra maupun refleksi sosial dan budaya yang ia abadikan dalam bait-bait puisinya.***