Mengenal Abu Nuwas Alias Abu Nawas, Sastrawan Arab Klasik Terbesar di Jaman Kekhalifahan Abbasiyah

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 25 Agustus 2025 | 11:39 WIB
Patung Abu Nuwas di Irak (X PBS)
Patung Abu Nuwas di Irak (X PBS)

KLIK SAJA – Di Nusantara kita mengenalnya dengan nama Abu Nawas, kisah-kisah klasiknya selalu mencerminkan kecerdikan di atas rata-rata.

Padanan namanya yang benar bukanlah Abu Nawas tetapi Abu Nuwas, sosok sentral sastra Arab Klasik di jaman Kekhalifahan Abbasiyah.

Abu Nuwas  lahir sekitar tahun 756–758 Masehi, adalah seorang penyair Arab klasik yang dikenal sebagai tokoh terkemuka aliran puisi modern atau muhdath yang berkembang pada masa awal Kekhalifahan Abbasiyah.

Sosoknya tidak hanya terkenal dalam dunia sastra, tetapi juga masuk dalam tradisi rakyat, bahkan beberapa kali muncul dalam kisah Seribu Satu Malam.

Berasal dari keturunan campuran Arab dan Persia, Abu Nuwas menempuh pendidikan di Basra dan al-Kufah.

Ia mula-mula berguru pada penyair Waliba ibn al-Hubab, lalu melanjutkan belajar kepada Khalaf al-Ahmar.

Selain puisi, ia juga mempelajari Al-Qur’an, Hadis, dan tata bahasa Arab. Berkat kepiawaiannya, ia mendapat tempat istimewa di hati khalifah Abbasiyah Harun ar-Rasyid dan al-Amin.

Abu Nuwas dikenal luas melalui puisi-puisinya tentang  Khamriyyat atau ‘yang memabukkan’, terangkum dalam Diwan—kumpulan karya puisinya yang banyak membahas tema agama, kenikmatan hidup, hingga erotisme homoerotis.

Abu Nuwas lahir di wilayah Ahvaz yang kini masuk dalam wikayah Provinsi Khuzestan, Iran pada masa kekuasaan Abbasiyah.

Tanggal kelahirannya tidak pasti, namun diperkirakan antara tahun 756–758 M.

Ayahnya bernama Hani, seorang Arab kemungkinan dari Damaskus yang pernah bertugas dalam pasukan khalifah terakhir Dinasti Umayyah, Marwan II (744–750 M).

Ibunya adalah seorang perempuan Persia bernama Gulban, yang dikenalnya ketika Hani bertugas di kepolisian Ahvaz. Saat Abu Nuwas berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Sejak kecil, ia ikut ibunya pindah ke Basra di Irak bagian selatan. Di sana, ia menempuh pendidikan Al-Qur’an dan berhasil menjadi seorang hafiz pada usia muda.

Wajah tampan dan karismanya menarik perhatian penyair Kufah, Abu Usama Waliba ibn al-Hubab al-Asadi, yang kemudian membawanya ke Kufah sebagai murid sekaligus asisten.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X