edukasi

Mengenal Sabi’in, Kaum Ahli Kitab yang Disebutkan dalam Al Quran

Selasa, 19 Agustus 2025 | 12:01 WIB
ilustrasi Kaum Sabiin (yufid)

Hingga hari ini, di Irak dan Iran, nama “Sabi'in” biasanya merujuk pada kaum Mandaean, sebuah kelompok etno-religius modern yang mengikuti ajaran Nabi Yahya bin Zakariya (Yohanes Pembaptis). Kaum Sabi'in Mandaean ini bersifat monoteistik, upacara keagamaan terpenting mereka adalah baptisan, dan kitab sucinya dikenal sebagai Ginza Rabba.

Nabi-nabi mereka meliputi Adam, Syits, Nuh, Sam, dan Yahya, dengan Adam sebagai pendiri agama dan Yahya sebagai nabi terbesar sekaligus terakhir.

Etimologi kata Arab Ṣābiʾ masih diperdebatkan.

Menurut salah satu penafsiran, kata ini berasal dari bentuk aktif akar Arab ṣ-b-ʾ (“berpaling kepada”), sehingga bermakna “orang yang beralih/bertobat/konversi.”

Ahli lain menyatakan bahwa kata itu berasal dari akar bahasa Aram yang berarti “mencelup” atau “membaptis.”

Makna sebagai “orang yang berpaling/konversi” didukung oleh sejumlah leksikografer Arab abad pertengahan dan oleh sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibn Hisyam (w. 834), penyunting  sirah Nabi Muhammad paling awal.

Riwayat itu menyebut bahwa istilah ṣābiʾa pernah dilekatkan kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslim awal oleh sebagian musuh mereka (mungkin orang Yahudi), karena dianggap telah “berpaling” dari agama yang benar menuju ajaran sesat.

Dengan demikian, istilah itu mungkin sempat digunakan secara ironi terhadap Muslim awal, sebelum kemudian dipakai kembali untuk menyebut kelompok-kelompok dari latar Yahudi-Kristen yang “beralih” kepada risalah baru Muhammad.

Dalam konteks ayat-ayat Qur’an, istilah itu bisa saja merujuk kepada orang-orang yang meninggalkan agamanya karena menemukan kekeliruan di dalamnya, namun belum memeluk Islam. Dalam pengertian ini, ṣābiʾ memiliki kedekatan makna dengan istilah ḥanīf atau ‘yang lurus’.

Sementara itu, penafsiran sebagai “pencelup” atau “pembaptis” lebih sesuai dengan pandangan yang mengidentifikasi Sabi'in Qur’ani sebagai sekte pembaptis seperti kaum Elkasait atau Mandaean.

Namun, etimologi ini juga bisa dipakai untuk menjelaskan kisah Ibn Hisyam tentang Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang disebut “Sabi'in,” yang mungkin merujuk pada praktik wudu (pencucian sebelum shalat) dalam Islam, yang menyerupai praktik ritual berbagai sekte pembaptis.

Etimologi lain juga pernah diajukan: Judah Segal berpendapat bahwa istilah tersebut merujuk pada Ṣōbā, nama Suriah untuk kota Nisibis di Mesopotamia Hulu.

Ada pula yang mengaitkannya dengan kata Ibrani ṣābāʾ (“bala tentara langit”), sehingga menyiratkan makna “penyembah bintang.”***

Halaman:

Tags

Terkini