KLIK SAJA – Bagi umat muslim, pasti pernah mendengar nama kaum Sabi’in yang disebutkan tiga kali dalam Al Quran.
Namun banyak yang tidak tahu tentang keberadaan kaum dari peradaban kuno ini, mari kita kulik.
Sabi'in (kadang juga dieja Sabaean atau Sabean) adalah sebuah kelompok keagamaan yang disebut tiga kali dalam Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an, mereka tampak digolongkan sebagai bagian dari Ahl al-Kitab.
Identitas asli mereka, yang tampaknya sudah terlupakan sejak masa awal, sering disebut sebagai “masalah Al-Qur’an yang belum terpecahkan.”
Para sarjana modern memiliki beragam pendapat mengenai siapa sebenarnya kaum Sabi'in ini.
Ada yang mengaitkannya dengan kaum Mandaean, Manikean, Sabaean (bangsa Arab Selatan kuno), Elkasait, Arkhontik, kaum ḥunafāʾ (baik sebagai aliran Gnostik maupun “sekte”), hingga penganut agama perbintangan di Harran.
Sebagian ahli berpendapat, mustahil menentukan identitas asli kaum Sabi'in dengan tingkat kepastian apa pun.
Sejak setidaknya abad ke-9 M, sebutan Qur’ani “Sabi'in” diklaim oleh berbagai kelompok agama yang ingin diakui oleh otoritas Muslim sebagai Ahl al-Kitab sehingga berhak mendapatkan perlindungan hukum (dhimmah).
Di antaranya adalah Sabi'in Harran, penganut sebuah agama Semitik kuno yang berpusat di kota Harran, Mesopotamia Hulu.
Para penulis Kristen Suriah menyebut mereka sebagai penyembah bintang. Kaum Sabi'in Harran mempraktikkan politeisme Semitik kuno yang kemudian bercampur dengan unsur-unsur Helenistik.
Banyak tokoh yang dikenal pada abad ke-9 hingga ke-11 dengan julukan al-Ṣābi’ kemungkinan adalah penganut agama ini atau keturunan mereka—termasuk dua ilmuwan ternama, Tsabit ibn Qurra (w. 901) dan al-Battani (w. 929).
Mulai awal abad ke-10, istilah “Sabi'in” juga dipakai lebih longgar untuk menyebut berbagai kaum “pagan” (penyembah berhala), termasuk orang Mesir dan Yunani kuno, bahkan juga umat Buddha.
Ibn Wahshiyya (w. sekitar 930) menggunakan istilah itu untuk menyebut bentuk paganisme Mesopotamia yang masih menyimpan unsur-unsur agama Asyur-Babilonia kuno.