KLIKSAJA - Upacara Raracik Goib merupakan salah satu tradisi leluhur masyarakat Sunda yang masih lestari di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Secara etimologis, raracik berarti racikan aneka makanan atau hidangan kesukaan para leluhur yang biasanya disajikan layaknya sesajen, sedangkan kata goib merujuk pada sesuatu yang berhubungan dengan alam tak kasatmata.
Dengan demikian, Raracik Goib dapat dimaknai sebagai upacara yang menghubungkan manusia dengan hal-hal gaib melalui simbol-simbol alam dan sesajen.
Tradisi ini menjadi bentuk komunikasi antara manusia dan alam sebelum dimulainya sebuah pertunjukan seni. Tujuannya adalah memohon perlindungan Allah SWT selama pergelaran berlangsung serta keselamatan lahir batin bagi penyelenggara hajat.
Karena itu, para seniman yang terlibat dituntut memiliki sifat rendah hati dan menghormati sesama.
Meski tidak ditemukan dalam bentuk manuskrip atau naskah kuno, amanat leluhur tentang pelaksanaan upacara ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kegiatan kesenian, terutama pada hajatan khitanan, perkawinan, dan upacara adat lainnya.
Fungsi Upacara Raracik Goib
Raracik Goib memiliki beberapa fungsi penting bagi masyarakat Cikareumbi. Secara preventif, upacara ini berperan sebagai langkah awal untuk menjaga keselamatan selama pergelaran, termasuk dari hal-hal yang bersifat mistis atau tidak diinginkan.
Dari sisi budaya, upacara ini menjadi identitas sekaligus pengikat komunitas agar tradisi leluhur tetap dirawat dan dilestarikan.
Baca Juga: Mengenal Tokok Sagu, Tradisi Kearifan Lokal Orang Papua yang Tak Lekang Jaman
Selain itu, terdapat fungsi etika yang mengajarkan norma serta adab dalam memperlakukan alat-alat kesenian secara santun sesuai kedudukannya.
Fungsi ekonomi pun hadir melalui seni pertunjukan yang menjadi sumber penghasilan bagi para seniman dan pelaku seni.
Makna Simbolik dalam Raracik Goib
Setiap rangkaian upacara sarat dengan simbol dan makna filosofis. Prosesi pementasan selalu diawali dengan empat tahapan utama, yakni sadupuhun, sawen, ngarekes, dan selametan. Seluruh prosesi ini melibatkan sesajen, pelaku seni, dan gamelan sebagai satu kesatuan.