KLIK SAJA - Semua kasus pembunuhan memang mengerikan, tetapi hanya sedikit yang mampu menguncang di Inggris selayaknya kasus pembunuhan Rachel Nickell pada tahun 1992, yang menjadi latar belakang kisah asli serial Netflix ini.
Dikisahkan Rachel ditikam sebanyak 49 kali saat sedang berjalan-jalan di Wimbledon Common pada siang hari bersama putranya yang masih berusia dua tahun, Alex.
Keganasan serangan tersebut—yang terjadi di tempat umum dan di hadapan seorang balita—terus membayangi benak publik, terlebih karena Alex adalah satu-satunya saksi mata, yang membuat sang pembunuh berhasil buron selama bertahun-tahun.
Ini adalah kejahatan yang telah berulang kali dibahas, dianalisis, dan didramatisasi, tetapi tidak pernah benar-benar disajikan seperti dalam serial The Witness.
Sepanjang tiga episodenya, penekanan narasi jarang berfokus pada hal-hal yang biasa kita duga.
Karakter utamanya bukanlah polisi atau sang pembunuh, melainkan keluarga yang ditinggalkan Rachel: Alex (diperankan oleh Jahsaiah Williams, lalu Max Fincham saat beranjak lebih tua) dan ayahnya yang terpuruk, André (Jordan Bolger).
Sudut pandang baru yang memilukan ini ternyata memberikan dampak yang mendalam.
André harus berhadapan dengan duka akibat kehilangan pasangannya, tantangan menjadi orang tua tunggal secara mendadak, kerumitan merawat anak kecil yang trauma, serta tuntutan dari penyelidikan kepolisian.
The Witness secara khusus menyoroti apakah Alex—yang terlalu muda bagi siapa pun untuk tahu pasti seberapa jauh ia memahami apa yang dilihatnya—akan makin terguncang oleh upaya menggali informasi apa pun yang terkunci di dalam benak balitanya. André harus mengambil keputusan seberapa jauh ia mampu mendorong anaknya.
Setiap tantangan tersebut adalah tugas yang tidak memiliki buku panduan—lalu bagaimana Anda menghadapi semuanya secara bersamaan?
The Witness dengan berani memberikan jawaban yang sejujurnya: André tidak mampu.
Ia berulang kali mengambil keputusan yang dipertanyakan oleh kita dan orang-orang di sekitarnya, baik saat menunjukkan kekesalan ketika Alex bertingkah di depan psikolog anak, maupun saat ia bersikeras membawa Alex untuk mengidentifikasi jenazah Rachel.
Adegan yang disebutkan terakhir sangat sulit dilupakan: bocah itu seolah tahu lebih baik daripada sang ayah bahwa tidak ada hal baik yang didapat dari melihat ibunya yang telah tewas, sehingga ia mengabaikan ayahnya dan tetap duduk di lantai sembari bermain mainan.
Seiring cerita bergerak maju dan mundur melewati lintasan waktu, kita melihat Alex sebagai seorang remaja yang memberontak dengan cara-cara wajar, namun dengan celah keretakan unik akibat perbedaan pendapat antara dirinya dan sang ayah tentang cara menghadapi masa lalu mereka: Alex tidak ingin membahasnya, tetapi André tahu hal itu tidak bisa terus dibiarkan.