Walau harus terpisah, dimana ia melanjutkan studi di Universitas Pattimura, Ambon.
Menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi di Indonesia Timur tidaklah mudah dan murah.
Pilihan universitas yang bermutu teramat sedikit, jikalau pun ada, kita harus menyeberang hingga ke Ambon.
Biaya transportasi untuk akomodasi putra yang berkuliah di Ambon tidaklah murah bagi saya yang berprofesi buruh pasar ikan.
Maka dari itu, semasa kuliah putraku hanya bisa pulang kampung setahun sekali, untuk menghemat biaya.
Baca Juga: Mengenal Babaca Maulid, Tradisi Warga Ternate di Bulan Rabiul Awal
Jarak antara Ternate ke Ambon sebenarnya tidaklah terlalu jauh, sebagai perbandingan jaraknya hampir sama antara Jakarta ke Semarang.
Namun karena Maluku adalah kepulauan yang terpisah lautan, maka jarak tersebut menjadi sangat jauh, dan hanya kapal perintis yang menjadi urat nadinya.
Seiring berjalannya waktu, Ahmad akhirnya berhasil lulus kuliah dengan tepat waktu dan meraih Cum Laude terbaik di angkatannya.
Dan tak lama, ia dikontrak oleh perusahaan telekomunikasi ternama dan berdinas di Gorontalo, serta juga bergaji lumayan besar.
Saat itu, aku merasa antara bahagia dan sedih, dimana di sisi lain aku senang anakku bisa langsung bekerja di perusahaan ternama, namun di waktu yang sama aku pun bersedih harus berpisah lagi dengan anak semata wayang.
Tiba-tiba lamunanku terbangun, mendengar suara horn membahana dari sisi dermaga.
Ternyata kapal perintis KM Sabuk Nusantara 76 segera bersandar di Pelabuhan Ahmad Yani.
Ku memandang di keramaian, tak kunjung pula kulihat Ahmad tampak dalam pandanganku.
Hampir setengah jam ku menanti, tak terlihat juga anakku dari keramaian penumpang yang baru saja datang.