KLIK SAJA - Jauh mataku memandang di kejauhan cakrawala menantikan kedatangan putraku semata wayang di pinggiran dermaga Pelabuhan Ahmad Yani Ternate.
Gunung Gamalama masih angkuh berdiri di jazirah Ternate menunggu salah satu putra kebanggaannya di perantauan.
Namaku Safa Marajabessy, aku adalah seorang ibu buruh pasar ikan di Ternate, namun melihat margaku, leluhurku berasal dari Tidore.
Pagi ini aku menantikan kedatangan putraku, Ahmad Marajabessy yang melakukan perjalanan laut menumpangi kapal KM Sabuk Nusantara 76.
Dia berangkat dari perantauan Gorontalo, dan mengabarkan akan mudik pulang kampung setelah Idul Fitri usai.
Di Gorontalo, ia merantau menjadi karyawan swasta pada sebuah perusahaan telekomunikasi ternama.
Ia mengabarkan pada Idul Fitri tahun ini bahwa dirinya baru bisa melakukan perjalanan pulang kampung ke Ternate seusai hari raya.
Hal tersebut dikarenakan piket kedinasan yang cukup padat di hari raya serta menyesuaikan jadwal kapal.
Walau demikian, hal tersebut tak mengurangi rasa kecewaku pada anakku yang belum bisa pulang kampung saat bulan Ramadan.
Teringat pada masa kecilnya penuh kesusahan, dimana pada usia 8 tahun, ia harus menerima kenyataan ayahnya yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.
Sewaktu itu, kami berdua sangat terpukul, kehilangan sandaran dan tulang punggung ekonomi keluarga.
Mengingat, suami dan saya pada saat itu juga harus menghidupi adik-adik kami yang masih kecil.
Namun, hidup harus berjalan, saya pun harus melanjutkan usaha lapak ikan laut yang sudah dirintis almarhum suami.
Tahun demi tahun kami lalui dengan susah payah, tanpa disangka aku berhasil menyekolahkan anakku hingga ke perguruan tinggi.