Drakor biasanya suka menjelaskan segalanya dengan jelas.
Tapi drama ini membiarkan beberapa hal tetap menggantung.
Seperti puisi yang tidak selalu harus dimengerti sepenuhnya.
Kadang cukup dirasakan.
Ketidaklengkapan itu justru membuat penonton berpikir.
Ada ruang untuk interpretasi, ruang untuk diam dan itulah yang membuatnya terasa dewasa.
7. Ada kesan healing, tapi bukan healing yang manis
Healing dalam No Tail to Tell bukan tipe yang penuh pelukan hangat dan ending cepat.
Healing-nya pelan, kadang menyakitkan. Seperti proses pulih yang realistis.
Drama ini tidak berkata “semua akan baik-baik saja” dengan mudah.
Ia hanya menemani, seperti puisi di malam panjang.
Hangat, tapi tidak membohongi rasa sakit dan itu yang membuatnya jujur.
8. Drama ini terasa seperti surat untuk orang-orang yang lelah
Pada akhirnya, No Tail to Tell terasa personal. Seperti ditulis untuk orang yang sedang capek, sedang sepi, sedang bertahan.