Ia berbicara tentang mereka yang tidak punya ruang untuk melawan secara frontal.
Dalam konteks sosial, bertahan hidup di sistem yang tidak adil pun sudah merupakan perjuangan.
Pro Bono memberi ruang pada narasi ini. Sebuah bentuk empati yang jarang diangkat.
Kenapa Kutipan Pro Bono Terasa Menampar?
Karena dialog-dialognya tidak dibuat untuk menggurui.
Ia lahir dari situasi yang dekat dengan kehidupan nyata.
Pro Bono tidak memaksa penonton untuk setuju, hanya mengajak berpikir dan di situlah kekuatannya.
Drama ini mengingatkan bahwa keadilan bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman manusia sehari-hari.***