Dengan bantuan Gwen yang membuat penawar aerosol, Spider-Man berhasil menghentikan Connors dan menyelamatkan kota. Namun Kapten George Stacy, ayah Gwen, tewas dalam pertempuran dan meminta Peter menjauh dari Gwen demi keselamatannya.
Peter mencoba mematuhi permintaan itu, meski keduanya sama-sama tersakiti.
Di akhir film, seorang pria misterius mengunjungi Connors di penjara dan menyinggung rahasia besar tentang ayah Peter — sesuatu yang belum diketahui Peter.
Review
The Amazing Spider-Man menawarkan pendekatan baru terhadap kisah Spider-Man, dengan nuansa lebih gelap dan emosional dibanding trilogi sebelumnya.
Andrew Garfield memberikan interpretasi Peter Parker yang lebih ekspresif, lincah, dan penuh luka batin — kombinasi yang membuat karakter ini terasa lebih manusiawi.
Chemistry antara Garfield dan Emma Stone menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Interaksi mereka terasa alami, hangat, dan memikat, menjadikan hubungan Peter dan Gwen sebagai salah satu pasangan terbaik dalam film superhero modern.
Lizard sebagai antagonis membawa nuansa tragis: ilmuwan jenius yang tersesat oleh ambisinya sendiri.
Visual efek saat Connors berubah menjadi Lizard juga digarap cukup solid untuk masanya, menghadirkan desain yang unik dan mengintimidasi.
Film ini memang tidak lepas dari kritik—alur origin story yang terasa familiar, serta beberapa penjahat yang kurang dieksplorasi.
Film ini pun dianggap kurang sukses ketimbang dengan filmsebelumnya, karena dirasa tidak ada yang baru.
Namun secara keseluruhan, The Amazing Spider-Man tetap menjadi tontonan yang menarik berkat aksi yang memukau, sentuhan drama yang kuat, dan karakterisasi yang lebih matang.
Hasilnya adalah reboot yang segar, emosional, dan memuaskan, terutama bagi penggemar Spider-Man yang ingin melihat sisi Peter Parker yang lebih rapuh tetapi juga lebih tangguh.***