KLIK SAJA - Liburan kadang cuma jadi folder foto yang menua seiring waktu. Tapi di Aftersun, kenangan berubah jadi sebuah ruang sunyi di mana dua hati ayah dan anak berusaha saling memahami tanpa tahu bahwa beberapa hal memang tidak pernah sempat dijelaskan.
Film drama ini terasa seperti memori musim panas yang lembut, tapi juga seperti kalimat yang tidak pernah selesai diucapkan.
Berikut 5 alasan kenapa Aftersun bukan cuma film, tapi pengalaman emosional yang datang pelan namun membekas lama.
1. Sinopsisnya sederhana tapi justru di situlah letak hantamannya
Sophie kecil (11 tahun) berlibur bersama ayahnya, Calum, ke sebuah resor tenang di Turki.
Baca Juga: Review Film 'If I Had Legs I’d Kick You' (2025), Membuka Mata Tentang Tekanan Ibu dan Standar Sosial
Tidak ada drama besar, tidak ada ledakan konflik, hanya momen-momen kecil yang tampaknya biasa makan bareng, main di kolam, ngobrol sebelum tidur.
Namun seiring cerita berjalan, penonton mulai merasakan bahwa Calum menyimpan luka batin yang tidak sempat ia ceritakan.
Sophie, dengan kepolosannya, hanya menangkap sebagian—dan sisanya baru ia pahami ketika dewasa.
Film ini seperti album foto yang ketika dibuka kembali bertahun-tahun kemudian, terasa jauh lebih berat dari yang kita ingat.
2. Hubungan ayah dan anak yang terasa nyata, tanpa dibuat-buat
Aftersun tidak memaksakan keharuan. Chemistry Sophie dan Calum mengalir begitu natural, seolah kamera hanya mengintip kehidupan nyata sebuah keluarga.
Baca Juga: BRI Menang Besar di ASRA 2025, Dari CEO Letter hingga Materiality Report Semua Jadi Sorotan
Percakapan mereka ringan, kadang lucu, kadang janggal mirip interaksi kita dengan orang tua yang masih belajar menjadi dewasa ketika kita masih kecil.