entertainment

Review Film 'His House' (2020), Teror di Balik Tembok Rumah dan Mengangkat Isu Sosial Trauma Pengungsi

Sabtu, 11 Oktober 2025 | 06:58 WIB
Review Film 'His House' (2020), Teror di Balik Tembok Rumah dan Mengangkat Isu Sosial Trauma Pengungsi (Netflix)

KLIK SAJA - Film horor/drama tahun 2020, "His House," yang dirilis di Netflix, telah diakui secara kritis sebagai salah satu karya terbaik di genrenya.

Film ini berhasil memadukan kengerian supernatural yang mencekam dengan bobot teror psikologis yang mendalam, berfokus pada trauma yang dialami oleh para pengungsi.

Pendekatan unik inilah yang membuat His House mendapatkan respons yang sangat positif, bahkan meraih rating sempurna 100% di Rotten Tomatoes, sebuah pencapaian langka untuk film horor.

Sinopsis Singkat

Film ini menceritakan kisah pilu Bol (Sope Dirisu) dan Rial (Wunmi Mosaku), sepasang suami istri yang melarikan diri dari kekerasan perang yang berkecamuk di Sudan Selatan.

Baca Juga: Hanung Bramantyo Garap Adaptasi 'Children of Heaven', Mengulas Sinopsis Film Asli Majid Majidi dan Ekspektasi Kisah di Tengah Realitas Sosial Indonesi

Bersama dengan para pengungsi lainnya, mereka berhasil selamat setelah menempuh perjalanan laut yang berbahaya, meskipun harus kehilangan putri semata wayang mereka, Nyagak.

Setibanya di Inggris, mereka mendapatkan suaka dan ditempatkan di sebuah rumah tua yang bobrok di pinggiran London sebagai bagian dari masa percobaan.

Awalnya, mereka berbahagia karena akhirnya memiliki "rumah" dan bebas dari detensi, namun kegembiraan itu tidak bertahan lama.

Rumah yang mereka tinggali mulai menunjukkan tanda-tanda dihuni oleh entitas jahat dan tak kasat mata.

Teror supernatural ini bukan sekadar hantu biasa, entitas tersebut terkait erat dengan folklor suku Dinka mereka, yakni penyihir malam (Apeth), yang menuduh Bol dan Rial telah mencuri hak hidup orang lain.

Baca Juga: Review Film 'No Other Choice' (2025), Ketika Lee Byung-hun dan Son Ye-ji Beradu Akting dalam Thriller Satir

Teror ini semakin memperburuk kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan menghadapi diskriminasi.

Film ini secara cerdas menggunakan elemen rumah berhantu sebagai metafora. Ketakutan yang dirasakan Bol dan Rial sesungguhnya adalah manifestasi dari rasa bersalah yang menghantui dan trauma mendalam atas keputusan tragis yang mereka ambil selama pelarian.

Halaman:

Tags

Terkini