entertainment

Film Animasi "Merah Putih One for All" Jadi Sorotan Setelah Dapat Rating Terburuk di IMDb

Rabu, 20 Agustus 2025 | 06:06 WIB
Film Animasi "Merah Putih One for All" Jadi Sorotan Setelah Dapat Rating Terburuk di IMDb (Poster film animasi di Indonesia berjudul “Merah Putih One for All”. (Instagram.com/@perfiki.tv))

KLIK SAJA - Film animasi Indonesia berjudul "Merah Putih One for All" sedang menjadi sorotan di media sosial setelah mendapatkan rating sangat rendah, yaitu 1,0 dari skala 10, di situs web IMDb pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Rating ini merupakan yang terendah yang bisa didapat di situs informasi film global tersebut.

Film petualangan yang disutradarai oleh Endiarto dan Bintang Takari serta diproduksi oleh Perfiki Kreasindo ini, sebelumnya dikabarkan dibuat dengan biaya sebesar Rp6,7 miliar.

Meskipun demikian, film ini sudah tayang di 10 bioskop Cinema 21 atau XXI di beberapa kota, termasuk Jakarta dan Surabaya, sejak 14 Agustus 2025.

Terkini, di laman IMDb, penonton film secara terang-terangan memberikan rating buruk atau 1,0 terhadap film animasi "Merah Putih One for All".

Baca Juga: Review Film 'Bastille Day' (2016), Kisah Awal Mula Konspirasi Teror di Kota Paris

"Kualitasnya buruk, saya akan memberi nilai minus kalau bisa. Sungguh pemborosan uang dan penghinaan bagi animasi Indonesia," tulis akun @Aretta-4 dalam ulasan penonton film tersebut di laman IMDb.

"Saya juga memperhatikan beberapa karakter dicuri dan plot yang dihasilkan AI juga terlihat jelas. Saya sarankan kalian untuk tidak menonton ini, baik untuk bersenang-senang maupun untuk konten, karena sama sekali tidak layak ditonton," imbuhnya.

Selain itu, terdapat penonton yang mengkritik tidak adanya unsur emosional yang menggugah dari film animasi tersebut.

Baca Juga: Review Film ‘Central Intelligence’ (2016), Komedi Aksi Tentang Persahabatan yang Mengocok Perut

"Animasinya sangat murahan dan berantakan bahkan yang lebih buruk lagi mengambil animasi seseorang tanpa meminta izin dari pembuatnya, akting suara bahkan dari trailer seperti orang membaca teks, tidak ada emosi, alur ceritanya tidak masuk akal," tutur akun @Keano-4.

Ada juga yang bertanya-tanya ihwal produksi film yang disebut dibantu dengan teknologi Artificial Intelligence (AI).

"Apa-apaan ini, Bro? Serius deh. Film ini sepenuhnya mengandalkan AI? Bayangin belajar animasi, menggambar, membuatnya tampak hidup, dan menjaga imajinasi kita tetap hidup cuma untuk digantikan?" kritik akun @FeliciaJ.***

Tags

Terkini