Sayangnya, meskipun twist ini sangat mengejutkan dan memberikan pondasi yang kuat untuk diskusi, logika cerita mulai runtuh ketika film ditonton ulang atau direnungkan lebih dalam.
Beberapa pertanyaan muncul tanpa jawaban yang memuaskan, mengganggu koherensi narasi.
Misalnya, mengapa semua istri di simulasi tersebut memiliki cerita masa lalu yang sama?
Asal-usul mereka yang identik terasa kurang masuk akal.
Kemudian, ada pertanyaan mengapa para istri tidak pernah saling curiga atau berbagi informasi tentang keganjilan yang mereka rasakan sebelum twist terungkap penuh.
Ada adegan pesawat jatuh yang menjadi pemicu utama perubahan dan kesadaran Alice, namun insiden krusial ini tidak pernah dijelaskan lebih lanjut atau relevansinya dalam konteks simulasi.
Ketidakjelasan ini meninggalkan lubang plot yang cukup besar.
Alhasil, "Don't Worry Darling" menjadi film yang seru untuk ditonton sekali karena efek kejutannya yang besar.
Namun, jika Anda mencoba menganalisisnya lebih jauh atau menontonnya untuk kedua kalinya,
Anda mungkin akan "garuk-garuk kepala" karena banyaknya inkonsistensi dan pertanyaan yang tidak terjawab.
Meskipun demikian, film ini tetap menawarkan pengalaman visual dan akting yang kuat, menjadikannya tontonan yang memicu perdebatan.
Sinopsis Singkat
Alice (Florence Pugh) hidup dalam rumah tangga ideal bergaya 1950-an di sebuah komunitas utopis.