KLIK SAJA - Film "Don't Worry Darling", besutan sutradara Olivia Wilde, awalnya memikat penonton dengan visual yang menawan.
Kita disuguhi kisah rumah tangga bergaya tahun 1950-an yang kaya estetika, lengkap dengan desain produksi yang memanjakan mata dan kostum yang anggun.
Film ini dengan cerdik membangun suasana ideal yang terasa sempurna, namun menyimpan misteri di baliknya.
Florence Pugh, yang memerankan tokoh utama Alice, sekali lagi membuktikan kemampuannya berakting, menampilkan emosi yang kompleks dan meyakinkan.
Namun, perlahan-lahan, narasi berubah haluan menjadi sebuah thriller psikologis yang mencekam.
Keganjilan demi keganjilan mulai dirasakan oleh Alice, memicu keraguan dan ketakutan akan realitas di sekitarnya.
Ketegangan dibangun dengan apik, membuat penonton ikut merasakan kegelisahan Alice dalam mencari tahu kebenaran di balik dunia yang tampak sempurna itu.
Performa akting Florence Pugh dalam menunjukkan transisi dari kekaguman menjadi ketakutan adalah salah satu kekuatan terbesar film ini.
Twist besar yang terungkap kemudian adalah bahwa semua yang dialami Alice hanyalah sebuah simulasi komputer.
Dunia idilis yang mereka tinggali, lengkap dengan rumah tangga ideal dan peran gender tradisional, ternyata diciptakan oleh karakter yang diperankan oleh Chris Pine.
Tujuannya adalah agar para laki-laki bisa hidup dalam fantasi rumah tangga yang mereka inginkan, tanpa gangguan dari dunia nyata.
Ini menjadi sentilan kuat terhadap isu gender, kontrol, dan patriarki, yang membuat film terasa relevan dan provokatif pada pandangan pertama.