Sosok makhluk halus yang menjadi teror utama divisualisasikan dengan efektif, menciptakan kengerian yang cukup mengganggu.
Alur cerita berusaha untuk menjaga keseimbangan antara mengungkap misteri pelanggaran Primbon dan menyajikan adegan-adegan menakutkan.
Namun, terkadang tempo penceritaan terasa sedikit lambat dalam membangun ketegangan. Para pemain berhasil menghidupkan karakter-karakter dalam keluarga tersebut, menunjukkan kepanikan dan upaya mereka dalam menghadapi teror yang menghantui.
Meskipun demikian, pengembangan karakter mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam untuk menambah kedalaman emosional pada penonton.
Penggunaan elemen-elemen budaya Jawa seperti pembacaan Primbon dan ritual-ritual tertentu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang tertarik dengan mistisisme lokal.
Secara keseluruhan, "Primbon" menyajikan tontonan horor yang cukup menghibur dengan latar belakang budaya yang kaya, meskipun masih memiliki potensi untuk lebih memaksimalkan kengerian dan kedalaman cerita.
Film ini berhasil menciptakan suasana mistis yang kuat dan memberikan perspektif baru tentang konsekuensi dari mengabaikan tradisi yang diyakini.***