entertainment

Resensi Novel Sitti Nurbaya : Kasih Tak Sampai Karya Marah Roesli, Kisah Cinta Klasik Tak Lekang Zaman

Selasa, 15 April 2025 | 13:38 WIB
Buku Novel Sitti Nurbaya (Promedia)

KLIK SAJA – Jika seandainya novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai diterbitkan di era sekarang, besar kemungkinan karya ini akan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.

Pasalnya, kisah cinta yang ditawarkan oleh Marah Roesli ini memiliki semua unsur yang membuatnya relevan, menyentuh, dan penuh konflik yang masih bisa dirasakan pembaca masa kini.

Mulai dari kisah cinta remaja, tekanan adat, orang tua penuh kasih, hingga intrik kekuasaan dan kolonialisme—Sitti Nurbaya adalah paket lengkap dalam sebuah roman klasik.

Ditulis dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1922, novel ini menandai tonggak penting dalam sastra Indonesia modern.

Marah Roesli, sang penulis, adalah seorang dokter hewan lulusan Sekolah Dokter Hewan Bogor tahun 1915, namun semangatnya dalam dunia sastra tidak pernah padam.

Sitti Nurbaya menjadi karya fenomenal yang tidak hanya mengangkat namanya sebagai pelopor roman Indonesia, tetapi juga menjadikan cerita ini abadi di hati para pembaca lintas generasi.

Cerita berkisah tentang Sitti Nurbaya, gadis remaja dari Padang yang hidup berkecukupan bersama ayahnya, Bagindo Sulaiman.

Sejak kecil, ia bersahabat dengan Samsul Bahri, pemuda pintar dan bercita-cita tinggi, yang kemudian pergi ke Batavia untuk belajar di STOVIA.

Namun, ketika Samsul pergi, badai kehidupan menghampiri keluarga Sitti. Harta mereka habis ditipu oleh lelaki tua licik, Datuk Maringgih, yang memaksa Sitti menikah dengannya sebagai ganti pelunasan utang ayahnya.

Kisah cinta Sitti dan Samsul pun kandas di tengah kerasnya adat dan kekuasaan. Sitti rela mengorbankan cinta demi menyelamatkan ayahnya, sementara Samsul patah hati dan ditolak kembali ke kampung halamannya.

Tragedi mencapai puncaknya ketika Datuk Maringgih meracun Sitti karena cemburu, membuat akhir kisah ini tak bahagia, namun membekas dalam hati pembaca.

Meskipun disebut sebagai novel percintaan, Sitti Nurbaya memuat nilai-nilai sosial yang sangat kuat: pertentangan antara adat dan kebebasan individu, antara tradisi dan modernitas, serta konflik moral antara kebaikan dan kejahatan.

Tokoh Datuk Maringgih menjadi lambang kekuasaan yang menindas, sementara Samsul Bahri hadir sebagai simbol kebaikan dan cinta sejati yang terhalang oleh sistem yang kaku.

Yang membuat novel ini istimewa adalah kenyataan bahwa kisahnya tetap relevan hingga kini.

Halaman:

Tags

Terkini