KLIK SAJA - The King's Speech (2010) bukanlah sekadar film biografi sejarah, tetapi juga drama yang menyentuh hati tentang keberanian, persahabatan, dan perjuangan mengatasi keterbatasan diri.
Film besutan Tom Hooper ini berlatar di Inggris pada tahun 1930-an, menjelang Perang Dunia II, dan berfokus pada Pangeran Albert, Duke of York (Colin Firth), yang kemudian menjadi Raja George VI.
Albert menderita gagap yang parah, yang membuatnya kesulitan berbicara di depan umum. Hal ini menjadi masalah besar baginya, terutama karena posisinya sebagai anggota keluarga kerajaan.
The King's Speech menggambarkan pertemuannya dengan Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis wicara Australia yang menggunakan metode-metode unorthodox untuk membantunya mengatasi gagapnya.
Yang membuat film berdurasi 1 jam 58 menit ini menonjol adalah penggambaran yang intim dan manusiawi tentang perjuangan seorang raja dan persahabatan yang terjalin di antara dua pria dari latar belakang yang berbeda.
Baca Juga: Review Film Flags of Our Fathers (2006): Di Balik Bendera Kemenangan
Perjuangan Melawan Gagap
The King's Speech dimulai dengan memperlihatkan betapa sulitnya bagi Albert untuk berbicara di depan umum karena gagapnya. Adegan-adegan awal menunjukkan betapa frustrasinya dia dan betapa malunya dia di depan orang banyak.
Ia telah mencoba berbagai pengobatan dan terapi, tetapi tidak ada yang berhasil. Atas desakan istrinya, Elizabeth (Helena Bonham Carter), ia kemudian bertemu dengan Lionel Logue.
Lionel menggunakan metode yang tidak konvensional, seperti meminta Albert berteriak, bernyanyi, dan menggunakan kata-kata kasar untuk melatih otot-otot bicaranya dan mengatasi hambatan psikologisnya.
Awalnya, Albert ragu dan skeptis, tetapi perlahan ia mulai mempercayai Lionel dan metodenya. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan yang erat.
Titik balik film ini terjadi ketika Raja George V (ayah Albert) meninggal dan kakak laki-lakinya, Edward VIII, turun tahta karena skandal pernikahannya dengan Wallis Simpson.
Albert tiba-tiba harus naik tahta sebagai Raja George VI, di saat negara membutuhkan sosok pemimpin yang kuat dan dapat berbicara dengan lancar kepada rakyat. Dengan bantuan Lionel, Albert mempersiapkan pidato penobatannya dan kemudian pidato pentingnya kepada bangsa Inggris saat mengumumkan dimulainya Perang Dunia II.
Tags
Artikel Terkait
-
Review Film The Rescue (2021): Detik-Detik Menegangkan di Kedalaman Tham Luang
-
Review Film Fire of Love (2022): Cinta, Lava, dan Obsesi yang Membara
-
Berikut Adalah Daftar Pemenang Golden Globe Awards 2025 Kategori Film Layar Lebar, Lengkap dengan Review Filmnya!
-
Review Film My Octopus Teacher (2020): Persahabatan di Kedalaman Samudra
-
Review Film Letters from Iwo Jima (2006): Surat-Surat dari Medan Perang dalam Perspektif Nippon
-
Review Film Flags of Our Fathers (2006): Di Balik Bendera Kemenangan