KLIK SAJA - Setelah sekian lama berkarya dan meninggalkan jejak yang membekas di dunia perfilman, Francis Ford Coppola kembali dengan sebuah proyek ambisius yang telah lama ia impikan: Megalopolis.
Setelah film Twixt (2011), Coppola kembali dengan karya yang diputar perdana di Cannes Film Festival pada Mei lalu.
Film Sci-fi Epic berdurasi 2 jam 18 menit ini membawa kita ke sebuah dunia distopia modern dengan sentuhan Romawi kuno, diperankan oleh Adam Driver sebagai Cesar, sosok arsitek misterius yang menjadi sentral cerita.
Megalopolis menandai kembalinya Coppola ke layar lebar dengan skala yang epik dan tema-tema yang provokatif.
Baca Juga: Review Film Avicii: I'm Tim (2024), Kisah Suara dari Balik Nada Tim Bergling
New Rome: Pertarungan Visi di Jantung Megalopolis
Megalopolis berlatar di New Rome, sebuah versi futuristik dari New York City. Kota ini hancur akibat bencana dan memunculkan dua kubu dengan visi yang bertentangan tentang bagaimana kota tersebut harus dibangun kembali.
Di satu sisi ada Cesar Catilina (Adam Driver), seorang arsitek idealis yang ingin membangun kota utopia yang disebut Megalopolis, sebuah kota yang berkelanjutan dan berteknologi tinggi.
Di sisi lain, ada Walikota Franklyn Cicero (Giancarlo Esposito), seorang politikus korup yang lebih memilih mempertahankan status quo dan memanfaatkan pembangunan kembali kota untuk keuntungan pribadi.
Di tengah konflik ini, hadir Julia Cicero (Nathalie Emmanuel), putri walikota yang terjebak di antara dua pria tersebut. Ia mencari jati diri dan makna hidup di tengah kekacauan politik dan sosial yang melanda kota.
Film ini juga menampilkan karakter-karakter pendukung yang kompleks, seperti Clodio Pulcher (Shia LaBeouf), Wow Platinum (Aubrey Plaza), Fundi Romaine (Laurence Fishburne), dan Jason Zanderz (Jason Schwartzman), yang masing-masing memiliki peran penting dalam konflik yang berkembang.
Hubungan antara Roma kuno dan New York modern terlihat jelas dalam arsitektur, nama karakter, dan intrik politik yang ditampilkan.
Baca Juga: Review Film A Real Pain (2024): Perjalanan Jesse Eisenberg dan Sepupunya Mencari Makna Luka dan Tawa