entertainment

Review Film Challengers (2024): Antara Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Tengah Lapangan Tenis

Minggu, 29 Desember 2024 | 12:38 WIB
Poster film Challengers (2024) yang dibinantangi oleh Zendaya (Creative Bloq)

Persaingan di lapangan tenis bukan lagi sekadar pertandingan olahraga, tetapi juga menjadi ajang untuk menyelesaikan urusan pribadi dan membuktikan siapa yang terbaik di mata Tashi. 

Baca Juga: Review Film The Brutalist (2024): Mencari Rumah di Tanah Impian, Kisah Imigran Pasca-Perang

Persahabatan, Cinta, dan Persaingan

Film ini dengan apik menggambarkan bagaimana persahabatan, cinta, dan persaingan saling terkait dan memengaruhi karakter-karakternya. Persahabatan antara Art dan Patrick diuji oleh kehadiran Tashi dan ambisi mereka di dunia tenis.

Cinta segitiga yang melibatkan mereka bertiga menambah lapisan drama dan ketegangan dalam cerita. Persaingan di lapangan tenis menjadi metafora untuk persaingan dalam kehidupan pribadi mereka.

Kisah Tashi, seorang atlet yang karirnya terhenti karena cedera di usia muda, sangat relevan dengan realita yang dihadapi banyak atlet.

Kita bisa melihat paralel dengan kisah Emma Raducanu, petenis muda yang meraih kesuksesan besar di usia belia namun kemudian menghadapi tantangan cedera dan penurunan performa, hingga kini mampu untuk bangkit lagi.

Challengers menggambarkan dengan jujur bagaimana cedera dapat memengaruhi mental dan karir seorang atlet, serta perjuangan untuk bangkit kembali. Film ini juga menyoroti bagaimana seorang atlet, walau harus pensiun dini, dapat tetap berkontribusi di dunia olahraga, seperti Tashi yang beralih menjadi pelatih.

Baca Juga: Review Film Ordinary Angels (2024): Ketika Bapack-Bapack Setrong juga Membutuhkan Bantuan

Performa Memukau dan Klimaks di Akhir Babak

Zendaya memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Tashi, menampilkan karakter yang kuat, ambisius, dan kompleks.Josh O'Connor dan Mike Faist juga tampil solid, menghidupkan karakter Patrick dan Art dengan nuansa yang berbeda.

Gaya penyutradaraan Luca Guadagnino yang khas, dengan visual yang indah, close-up yang intens, dan penggunaan musik Trent Reznor dan Atticus Ross yang efektif, semakin memperkuat emosi dan ketegangan dalam film.

Pertandingan final antara Art dan Patrick bukan hanya sekadar pertandingan olahraga, tetapi juga ajang untuk menyelesaikan konflik pribadi dan membuktikan siapa yang terbaik. Intensitas pertandingan digambarkan dengan sangat baik melalui sinematografi yang dinamis dan sound design yang mendebarkan.

Teriakan dan umpatan Art Donaldson di atas lapangan, yang merupakan akumulasi dari emosi yang terpendam selama ini, menjadi puncak dari konflik cinta segitiga mereka. Adegan ini sangat kuat dan berkesan, menggambarkan bagaimana emosi yang bercampur aduk bisa meledak di saat yang paling tidak terduga.

Performa yang kuat dari para aktor, penyutradaraan yang khas dari Luca Guadagnino, dan musik yang mendukung menciptakan pengalaman menonton yang intens dan memuaskan. IMDb pun memberi rating cukup bagus 7.1/10.  

Halaman:

Tags

Terkini