KLIK SAJA - Setelah sekian lama waralaba Alien terseok-seok mencari jati diri, Fede Alvarez hadir membawa angin segar. Alien: Romulus (2024) bukan sekadar film Alien biasa, melainkan sebuah penghormatan yang pas sekaligus inovasi yang berani.
Kehadiran film ini seperti Rogue One dalam semesta Star Wars; sebuah cerita sampingan yang berdiri sendiri, namun krusial dalam memperkaya mitologi Alien.
Alvarez, yang sebelumnya dikenal lewat Don't Breathe, berhasil menyuntikkan teror Xenomorph dengan gaya khasnya, menciptakan pengalaman menonton selama 1 jam 59 menit yang mencekam dan memuaskan bagi para penggemar horor dan fiksi ilmiah.
Siapkan mental Anda, karena Alien kembali meneror dengan lebih intens dari sebelumnya dengan semakin ditailnya Xenomorph dan banyak jump scare di dalamnya!
Nostalgia dan Inovasi: Sentuhan Tangan Dingin Álvarez
Alien: Romulus membawa kita kembali ke semesta yang sama dengan film-film Alien sebelumnya, tetapi dengan cerita dan karakter yang baru.
Film ini berlatar di antara peristiwa Alien (1979) dan Aliens (1986), menceritakan kisah sekelompok remaja yang tinggal di koloni penambangan yang keras.
Mereka adalah Rain Carradine (Cailee Spaeny), seorang wanita muda yang tangguh dan menjadi tokoh utama dalam film ini; Andy (David Jonsson) android yang diprogram untuk melindunginya, Tyler (Archie Renaux) mantan pacar Rain, Kay (Isabela Merced) adik Tyler yang sedang hamil, Bjorn (Spike Fearn) sepupu mereka, dan Navarro (Aileen Wu), saudara angkat Bjorn.
Bosan dengan kehidupan yang keras dan tanpa harapan di koloni, mereka memutuskan untuk menjelajahi stasiun luar angkasa Romulus yang terbengkalai dengan harapan menemukan sesuatu yang berharga. Namun, yang mereka temukan justru teror yang tak terbayangkan: Xenomorph.
Alien: Romulus tidak mencoba mengulang formula film-film Alien sebelumnya. Ia tidak berusaha menjawab pertanyaan filosofis ala Prometheus atau menyajikan aksi over-the-top seperti Aliens.
Sebaliknya, Alvarez memilih pendekatan yang lebih sederhana, namun efektif: kembali ke akar horor yang membuat Alien (1979) begitu ikonik.
Adegan-adegan di dalam stasiun luar angkasa yang sempit dan gelap terasa sangat klaustrofobik, mengingatkan kita pada Nostromo yang legendaris. Namun, Romulus juga tidak terjebak dalam nostalgia buta.