Review Film “13 Hours The Secret Soldiers of Benghazi”, Aksi Ketegangan Dari Awal Hingga Akhir

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Jumat, 16 Mei 2025 | 20:47 WIB
Poster Film 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi (imdb)
Poster Film 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi (imdb)

Film 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi karya sutradara Michael Bay memang bukan sajian sinematik yang sempurna.

Di tangan seorang sutradara yang kerap dikritik karena kecenderungannya pada gaya visual yang bombastis dan karakterisasi dangkal, tidak heran jika film ini mendapatkan banyak komentar negatif dari kalangan kritikus.

Namun di balik semua kekurangannya—baik dari segi penggambaran nuansa politik, pengembangan karakter, maupun akurasi historis—film ini tetap menghadirkan tontonan yang mendebarkan, tegang, dan memacu adrenalin dari awal hingga akhir.

Sinopsis

Film ini berdasarkan buku non-fiksi karya Mitchell Zuckoff, 13 Hours membawa penonton ke jantung tragedi Benghazi, Libya, pada 11 September 2012.

Kisah ini berpusat pada enam mantan tentara elit yang bekerja sebagai kontraktor keamanan untuk CIA dan mendapati diri mereka terjebak dalam serangan brutal terhadap kompleks diplomatik Amerika.

Di saat semua bantuan militer tak kunjung datang, para pria ini memutuskan untuk melanggar perintah, menyelamatkan siapa pun yang bisa mereka bantu, dan bertahan hidup dalam situasi yang nyaris tanpa harapan.

Inilah kekuatan utama film ini—situasi terjebak yang dipenuhi dengan tekanan konstan dan serangan yang datang dalam gelombang demi gelombang.

Penonton seolah ikut masuk ke dalam kekacauan malam itu, berlari bersama para karakter melewati reruntuhan, menghindari tembakan, dan merasakan kepanikan dalam situasi perang yang nyata.

Di sinilah 13 Hours benar-benar bersinar. Terlepas dari kritik terhadap narasi dan pesan politik yang tidak seimbang, ketegangan yang disajikan secara visual dan emosional mampu menambatkan perhatian penonton.

Memang, sebagai drama perang yang ideal, film ini terasa dangkal. Karakterisasi terlalu hitam-putih—para pahlawan digambarkan nyaris tanpa cacat, sedangkan pihak otoritas pemerintah tampil bodoh dan arogan.

Hal ini mengurangi kedalaman emosi dan mempersulit penonton untuk benar-benar terhubung dengan dilema manusiawi yang kompleks.

Namun, untuk mereka yang menginginkan ketegangan ala medan perang tanpa harus menyelami latar belakang politik terlalu dalam, 13 Hours adalah pilihan yang sangat layak ditonton.

Bay, seperti biasanya, mengandalkan gaya visual penuh energi: ledakan, tembakan, slow-motion dramatis, serta momen heroik bergaya video game.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X