KLIK SAJA - Napoleon (2023) hadir dengan potensi yang sangat besar. Ditulis oleh David Scarpa dan disutradarai oleh Ridley Scott, dua nama besar di industri perfilman, ekspektasi terhadap film sejarah ini tentu sangat tinggi.
Sayangnya, alih-alih menyajikan potret epik seorang jenderal dan kaisar legendaris, film ini justru memilih fokus pada sisi personal Napoleon Bonaparte, khususnya melalui surat-surat intimnya dengan istri pertamanya, Josephine.
Keputusan ini, meskipun menarik secara konsep, pada akhirnya justru menjadi bumerang dan mereduksi sosok Napoleon menjadi sekadar jenderal yang bucin.
Film sepanjang 2 jam 38 menit ini memang masih dilengkapi dengan semua paparan legasi Sang Jenderal, namun keterikatannya kepada karakter "bucin" membuat banyak kritik datang. Dan dampaknya, silang pendapat ini membuat nilai 6.3/10 di IMDb harus iklhas diraih Ridley Scott.
Cukup disayangkan melihat totalitas Joaquin Phoenix dan Vanessa Kirby yang menguap karena sebuah pertanyaan ketidakpercayaan pada source material, "Apa benar Napoleon seperti itu?"
Baca Juga: Review Film Dune: Part One (2021), Mata Paul Atreides Memandang Arrakis dan Takdirnya
Ambisi, Cinta, dan Kejatuhan
Alur film ini mengisahkan perjalanan hidup Napoleon Bonaparte (Joaquin Phoenix), dari awal karir militernya yang cemerlang hingga kebangkitannya sebagai Kaisar Prancis dan berakhir dengan pengasingannya.
Film ini dibuka dengan adegan Revolusi Prancis dan dengan cepat memperkenalkan Napoleon sebagai seorang perwira muda yang ambisius. Ia menunjukkan bakat militernya dalam beberapa pertempuran, termasuk Pengepungan Toulon.
Salah satu fokus utama film ini adalah hubungannya yang kompleks dan penuh gejolak dengan Josephine de Beauharnais (Vanessa Kirby). Pertemuan mereka digambarkan dengan intens, dan surat-surat cinta mereka menjadi narasi utama film. Film ini menggambarkan bagaimana Josephine memengaruhi keputusan dan ambisi Napoleon.
Film ini juga menampilkan beberapa pertempuran ikonik yang dipimpin Napoleon, seperti Pertempuran Austerlitz dan Pertempuran Waterloo. Namun, adegan-adegan pertempuran ini terasa kurang dieksplorasi dan tidak seepik yang diharapkan dari seorang Ridley Scott.
Pada akhirnya, film ini menggambarkan kejatuhan Napoleon, mulai dari invasi ke Rusia yang berujung bencana hingga kekalahannya di Waterloo dan pengasingannya ke pulau Saint Helena. Film ini diakhiri dengan kematian Napoleon di pengasingan.
Baca Juga: Review Film Dune: Part Two (2024), Transformasi Paul Atreides dari Pengelihatan Menuju Kekuasaan
Artikel Terkait
Review Serial Squid Game (2021): Kritik Sosial dalam Balutan Permainan Mematikan
Review Film Didi (2024): Kisah Coming-of-Age dan Asimilasi Budaya yang Menyentuh Hati
Review Film The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim (2024), Perspektif Anime di Middle-earth
Review Film Evil Does Not Exist (2023), Evolusi Karya Ryusuke Hamaguchi dari Film Pendek ke Isu Global
Review Film Dune: Part One (2021), Mata Paul Atreides Memandang Arrakis dan Takdirnya
Review Film Dune: Part Two (2024), Transformasi Paul Atreides dari Pengelihatan Menuju Kekuasaan