KLIK SAJA - Pablo Larraín kembali dengan karya biografi yang intim dan menggugah, Maria (2024). Film ini tidak mengisahkan keseluruhan hidup penyanyi opera legendaris Maria Callas, melainkan berfokus pada periode pengasingan dirinya di Paris pada tahun 1970-an.
Diperankan dengan brilian oleh Angelina Jolie, Maria menghadirkan potret seorang wanita yang berjuang dengan identitasnya, cinta, dan warisan legasinya. Film ini juga memperkenalkan kembali sosok Maria Callas kepada generasi baru, mengingatkan dunia akan kontribusinya yang luar biasa bagi dunia opera.
Ditayangkan pada OTT Netflix, Maria sudah bisa dinikmati sejak 11 Desember 2024. Film bergenre drama-biografi-tragis ini mempunyai durasi 2 jam 4 menit dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton.
IMDb merilis nilai 6.5/10 sementara deretan penghargaan Gotham dan Palm Springs Awards sudah membuktikan bahwa Angelina Jolie terlahir kembali sebagai artis berkelas di bawah arahan Larrain. Tahun depan, kita akan melihat namanya masuk sebagai nominasi aktris terbaik di Golden Globe 2025.
Tidak lupa juga satu pengambilan foto ikoniknya dengan kedua tangan menahan wajah dalam balutan kaos wol berwarna hitam, berdiri sejajar dengan gaya ikonik Marilyn Monroe bagi penggemar opera.
Maria Callas (1923-1977) sendiri adalah seorang soprano Yunani-Amerika yang dianggap sebagai salah satu penyanyi opera paling berpengaruh di abad ke-20.
Ia dikenal karena teknik vokalnya yang luar biasa, interpretasi dramatisnya, dan kehadirannya yang karismatik di panggung. Repetoarnya luas, mencakup opera-opera bel canto Italia hingga karya-karya Wagner dan Verdi. Beberapa peran ikoniknya antara lain Norma, Tosca, dan Aida.
Baca Juga: Review Film Deadpool & Wolverine (2024): Sang Marvel Jesus Menyelamatkan Multiverse
Refleksi di Tengah Kesunyian
Maria berlatar di Paris pada tahun 1970-an, beberapa tahun sebelum kematian Maria Callas. Setelah kehidupan publik yang penuh sorotan dan hubungan yang penuh gejolak dengan Aristotle Onassis, Maria memilih untuk hidup menyendiri di apartemennya.
Film ini mengikuti hari-harinya, di mana ia merenungkan masa lalunya, cinta yang hilang, dan kariernya yang gemilang. Kilas balik (flashback) menghidupkan kembali momen-momen penting dalam hidupnya, termasuk penampilan panggungnya yang memukau dan hubungannya yang kompleks.
Satu twist bakal kita dapatkan mengenai depresinya sang diva ini pada sosok bernama Mandrax (Kodi Smit-McPhee)
Film ini tidak hanya berfokus pada kesendirian Maria, tetapi juga menampilkan kilas balik ke masa kejayaannya di panggung opera, interaksinya dengan tokoh-tokoh penting di sekitarnya, dan terutama hubungannya dengan Aristotle Onassis (Haluk Bilginer).
Artikel Terkait
Review Film Ordinary Angels (2024): Ketika "Bapack-Bapack Setrong" juga Membutuhkan Bantuan
Review Film El Amor de Andrea (2023): Ketika Cinta Tak Lagi Sama, Inilah Perjalanan Andrea Menemukan Dirinya
Review Film The Brutalist (2024): Mencari Rumah di Tanah Impian, Kisah Imigran Pasca-Perang
Review Film The Substance (2024): Mencintai Diri Sendiri di Tengah Arus Waktu
Review Film Challengers (2024): Antara Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Tengah Lapangan Tenis
Review Film Deadpool & Wolverine (2024): Sang "Marvel Jesus" Menyelamatkan Multiverse