KLIK SAJA - Coralie Fargeat, sutradara asal Prancis yang dikenal dengan karya-karyanya yang provokatif dan berani, kembali hadir dengan film terbarunya, The Substance (2024).
Film ini berhasil mencuri perhatian di Festival Film Cannes 2024 dan mendapat sambutan meriah dengan standing ovation selama 11 menit, sebuah rekor untuk festival tersebut.
The Substance yang berdurasi 2 jam 21 menit ini menyajikan horor-tubuh yang eksplisit, tetapi di balik visualnya yang ekstrem, terdapat pesan yang kuat tentang penerimaan diri, penuaan, dan tekanan sosial terhadap perempuan untuk mempertahankan penampilan awet muda.
Di akhir film, perut kita akan dibuat mulas dengan visual horror-body yang memualkan, namun memang seperti itulah tujuan Fargaet membuat karya yang sangat mengandung makna "bangga terhadap diri sendiri".
Dalam review ini kita akan membahas pesan-pesan penting tersebut dengan tetap berhati-hati terhadap konten dewasa dalam film yang punya Rating R (Restricted) karena mengandung banyak adegan ketelanjangan.
Baca Juga: Review Film The Brutalist (2024): Mencari Rumah di Tanah Impian, Kisah Imigran Pasca-Perang
Tekanan Pekerjaan dan Obsesi Awet Muda
Film ini bercerita tentang kehidupan Elisabeth Sparkle (Demi Moore), seorang aktris yang merasa tertekan karena karirnya mulai meredup seiring bertambahnya usia.
Ia kemudian menemukan sebuah serum revolusioner bernama "The Substance" yang menjanjikan untuk menciptakan versi dirinya yang lebih muda dan sempurna. Ia pun tergoda untuk mencobanya.
Serum tersebut bekerja dengan cara membelah tubuh Elisabeth menjadi dua: dirinya yang lama dan versi mudanya yang diberi nama Sue (Margaret Qualley).
Keduanya harus berbagi waktu dalam tubuh yang sama, dengan aturan yang ketat: seminggu untuk Elisabeth, seminggu untuk Sue. Awalnya, Elisabeth merasa senang dengan kehadiran Sue, yang memberinya kesempatan untuk merasakan kembali masa mudanya.
Namun, segalanya berubah ketika Sue mulai memberontak dan ingin mengambil alih kendali sepenuhnya.
Salah satu tema sentral dalam The Substance adalah tekanan sosial yang dihadapi perempuan untuk selalu tampil muda dan menarik. Industri hiburan, khususnya, seringkali menuntut perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis.
Elisabeth, sebagai seorang aktris, merasakan tekanan ini secara langsung. Ia merasa terancam oleh kehadiran perempuan-perempuan muda yang dianggap lebih segar dan menarik.
Artikel Terkait
Review Film Jackpot! (2024): Keandalan John Cena Menjadi Bodyguard Awkwafina
Review Film Ordinary Angels (2024): Ketika "Bapack-Bapack Setrong" juga Membutuhkan Bantuan
Review Film Bad Boys: Ride or Die (2024): Persahabatan, Keluarga, dan Aksi Tanpa Henti
Review Film Memoir of a Snail (2024): Di Balik Cangkang Siput, Kisah Penerimaan Diri yang Menyentuh dan Menggelitik
Review Film El Amor de Andrea (2023): Ketika Cinta Tak Lagi Sama, Inilah Perjalanan Andrea Menemukan Dirinya
Review Film The Brutalist (2024): Mencari Rumah di Tanah Impian, Kisah Imigran Pasca-Perang